Ambisi global dan dominasi pasar
Hingga Desember 2025, Kopi Kenangan sudah mengoperasikan 1.136 gerai di Indonesia dan 188 gerai di luar negeri. Di bawah kepemimpinan Edward Tirtanata, ekspansi dilakukan secara masif. Tahun lalu saja mereka membuka 347 gerai, atau hampir satu gerai setiap hari.
Meskipun sempat merugi selama lima tahun berturut-turut akibat pandemi, perusahaan ini berhasil bangkit dan meraup laba bersih $17 juta pada tahun 2025 seiring lonjakan pendapatan hingga 45%.
Baca Juga: 31% Orang Berharap Kenaikan Gaji Bisa Membantu Mengatasi Masalah Keuangan, Padahal....
Perjalanan outlet kopi dengan konsep grab-and-go ini menarik perhatian dunia. Edward berhasil mengumpulkan total pendanaan $234 juta dari jajaran investor ternama. Peak XV Partners dan GIC Singapura turut memperkuat amunisi Kopi Kenangan.
Bukan hanya itu. Nama-nama besar seperti firma VC milik rapper Jay-Z (Arrive), petenis Serena Williams (Serena Ventures), hingga Eduardo Saverin (pendiri Meta) berdiri di belakangnya.
CEO Kopi Kenangan ini sekarang mengincar target yang lebih besar. Ia menginvestasikan $200 juta untuk melipatgandakan jumlah outlet menjadi 4.000 pada tahun 2030.
Rencananya, ia akan merambah 10 hingga 15 negara baru, termasuk memperkuat basis di Malaysia, Singapura, India, Filipina, hingga Australia.
"Untuk menjadi merek global yang sejati, kami perlu menambah dua hingga tiga negara setiap tahunnya," tutur lulusan Finance and Accounting Northeastern University, Boston, AS itu.
Baca Juga: 6 Kebohongan yang Sering Diungkapkan Pasien saat Konsultasi ke Dokter, Akibatnya Bahaya Banget!
Belajar dari krisis dan kegagalan
Edward dikenal sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dan visioner. Rekan pendirinya, James Prananto, menyebut Edward sebagai orang yang selalu berusaha memperbaiki segala hal.
Ketika pandemi COVID-19 memaksanya menutup puluhan gerai, Edward justru mampu menghasilkan inovasi. Ia melakukan perombakan strategi besar-besaran dengan fokus pada kios grab-and-go dan pengembangan aplikasi digital.
Kini, aplikasi tersebut menjadi motor pertumbuhan utama yang menyumbang hampir setengah dari total penjualan. Ia juga berani mencoba konsep baru seperti Kenangan Heritage dan Satu Kenangan, meski nggak semua eksperimen itu berhasil.
Bagi Edward, kegagalan adalah bagian dari proses untuk mengoreksi arah bisnisnya. Ia percaya, sebagai pendiri ia harus berani mengambil keputusan sulit demi efisiensi sumber daya.