Para peneliti mengakui, masyarakat modern sering harus bekerja sampai malam. Oleh karena itu peneliti meminta para pemberi kerja untuk lebih memperhatikan dampak kesehatan.
“Sebaiknya lakukan shift bergilir, terutama jadwal kerja bergilir yang dipercepat, dengan periode kerja malam sesingkat mungkin, dan banyak hari istirahat.
“Hal ini di antaranya untuk memulihkan akumulasi kekurangan tidur,” tulis para peneliti dalam makalah yang mereka terbitkan.
Perlu diketahui, pengumpulan data ini berdasarkan pelaporan mandiri, bukan analisis tidur yang dilakukan di laboratorium. Data tersebut berasal dari orang-orang yang menanggapi seruan di surat kabar.
Data tidak membuktikan bahwa bekerja shift malam secara langsung menyebabkan masalah kelainan tidur. Namun, statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara keduanya.