Para peneliti mengakui, masyarakat modern sering harus bekerja sampai malam. Oleh karena itu peneliti meminta para pemberi kerja untuk lebih memperhatikan dampak kesehatan.
“Sebaiknya lakukan shift bergilir, terutama jadwal kerja bergilir yang dipercepat, dengan periode kerja malam sesingkat mungkin, dan banyak hari istirahat.
“Hal ini di antaranya untuk memulihkan akumulasi kekurangan tidur,” tulis para peneliti dalam makalah yang mereka terbitkan.
Perlu diketahui, pengumpulan data ini berdasarkan pelaporan mandiri, bukan analisis tidur yang dilakukan di laboratorium. Data tersebut berasal dari orang-orang yang menanggapi seruan di surat kabar.
Data tidak membuktikan bahwa bekerja shift malam secara langsung menyebabkan masalah kelainan tidur. Namun, statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara keduanya.
Artikel Terkait
Lowongan Kerja Social Media Manager di Ideoworks buat yang Kuat dalam Pemikiran Analitis dan Strategis
Pijak Bumi, Brand Sepatu Lokal Daur Ulang yang Dipakai Ganjar Pranowo Saat Debat Pertama Capres
Kaum Milenial dan Gen Z Mulai Penasaran dengan Berita Politik, Apa Saja Dampak untuk Politik Indonesia?
Orang Kantoran yang Doyan Tenis, Waspadai 5 Jenis Cedera Ini
Yes...! Lineup 2 Golden Disc Awards 2024 Sudah Diumumkan: Ada LE SSERAFIM, IVE, dan TXT!
Erick Thohir Bicara Soal Mafia Bola: "PSSI Transparan Dan Siap Diperiksa Jika Diperlukan"
5 Skill Set yang Diperlukan Product Manager untuk Membangun Loyalitas Pelanggan dan Produk Diterima Pasar