PejuangKantoran.com - Bagi sebagian perempuan, nyeri haid seringkali membuat aktivitas mereka terganggu. Itu sebabnya di Indonesia, ketentuan cuti haid diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003, Paraf 3 Perempuan, Pasal 81.
Pasal 81 UU ini bunyinya, “Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.”
Jika dipaksakan untuk bekerja, nyeri haid membuat hasil kerja tidak maksimal. Hal ini sesuai survei yang dikeluarkan YouGov, di mana seperempat perempuan mengatakan bahwa mereka sering mengalami nyeri haid yang memengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja.
Rata-rata perempuan yang sedang mens menilai skala menstruasi mereka adalah 4,3 dari skala nyeri 10 poin. Rata-rata skor nyeri menstruasi mereka meningkat menjadi 6,5, membuatnya “terburuk dari yang pernah ada”.
Gejala nyeri haid, yang istilah medisnya “dismenorea”, antara lain kram yang ringan hingga nyeri hebat yang tidak terkendali dan tidak mudah dihilangkan, demikian menurut NHS Inform.
Mens yang parah tidak boleh dibiarkan, karena bisa menjadi indikasi dari kondisi seperti endometriosis, penyakit radang panggul, fibroid, adenomiosis, dan sindrom ovarium polikistik.
Nyeri haid terkadang sulit dikelola. Sayangnya, di Inggris tidak ada hak khusus berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan untuk memberikan cuti haid berbayar bagi mereka yang menderita nyeri haid atau masalah kesehatan terkait lainnya.
Karyawan harus mengambil cuti sakit jika mereka memerlukan cuti kerja karena nyeri haid, begitu menurut firma hukum global Clyde & Co.
Hanya sedikit warga Inggris yang mendukung tawaran cuti haid di Inggris, sebesar 45% hingga 39%. Sikap terhadap cuti haid lebih bersifat mendukung di kalangan generasi muda Inggris, yaitu mereka yang berusia di bawah 30 tahun.
Baca Juga: Musim Kawin di Las Vegas, Angka Cakep atau Angka Cantik 1-2-3
Mereka yang berusia 30-an dan 40-an tahun juga cenderung menyetujui pemberian waktu istirahat untuk mengatasi nyeri haid, sementara warga Inggris berusia 50-an dan 60-an cenderung menentangnya.
40% dari Generasi Milenial dan Gen Z rela mengundurkan diri
Jika perusahaan ingin mempertahankan stafnya, mereka harus memprioritaskan dukungan bagi staf yang mengalami nyeri haid.
Menurut hasil penelitian dari Lifesum, responden staf Gen Z dan Milenial sangat serius mengenai kondisi kesehatan mereka. Hampir separuh (47%) mengakui bahwa mereka rela mengundurkan diri dari pekerjaan besok demi pekerjaan yang lebih mendukung kesejahteraan mereka.