Jadi, ini bukan karena orang dengan kontrol diri tinggi memilih jenis aktivitas yang berbeda dari orang yang memiliki kapasitas bersenang-senang yang tinggi.
Sebagai contoh, orang yang memiliki kontrol diri tinggi mungkin menganggap belajar sebagai kegiatan yang memuaskan, sedangkan orang lain menganggapnya membosankan.
Tergantung kepuasan diri
Menariknya, para peneliti juga menemukan bahwa kedua sifat tersebut, yaitu kendali diri dan suka bersenang-senang, terkait dengan kepuasan yang lebih besar yang didapat dari cara partisipan menghabiskan waktu.
Jika orang yang suka bersenang-senang lebih kuat terkait dengan kegembiraan, orang dengan pengendalian diri lebih terkait dengan makna.
Baca Juga: Si Silent Reader, yang Lebih Banyak Diam di Grup Chat, Ternyata Cenderung Punya EQ Tinggi
Temuan ini memberikan bukti bahwa banyak kemampuan mengendalikan diri besar kemungkinan disebabkan oleh motivasi orang untuk merasa produktif dan terlibat dalam kegiatan yang bermakna daripada kesenangan.
“Itu berarti orang-orang yang pengendalian dirinya tinggi tidak bisa menghabiskan akhir pekan atau liburan hanya dengan diam saja. Mereka perlu melakukan sesuatu yang membuatnya merasa produktif. Misal, mempelajari keterampilan baru,” ujar Bernecker.
Namun, para penulis mencatat bahwa penelitian mereka bersifat korelasional dan berdasarkan laporan diri. dengan demikian pengendalian diri tidak bisa dipastikan menyebabkan orang lebih memilih pengalaman yang bermakna atau sebaliknya.
Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah untuk memahami sifat pengendalian diri karena ada begitu banyak hasil positifnya.
Bernecker berkata, “Jika kita memahami prosesnya, kita bisa membantu orang untuk menjadi lebih baik dalam hal ini.” ***