bugar

Fenomena Alone Together Melanda Gen Z dan Millenial. Apa Itu dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

Senin, 28 Juli 2025 | 11:11 WIB
Fenomena alone together menunjukkan bahwa meskipun kita punya banyak teman medsos, namun belum tentu punya hubungan yang intens dengan mereka. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Pernah gak kamu merasakan suasana seperti ini: punya banyak akun media sosial dan punya banyak teman di semua media sosial tersebut, ikut aneka grup WA maupun Telegram yang aktif, namun pada saat tertentu, kamu merasakan kosong dan kesepian.

Ini fenomena yag sering disebut sebagai “alone together”.

Istilah ini adalah istilah popular yang dikenalkan oleh oleh Dr. Sherry Turkle, seorang profesor sosiologi dan psikologi dari MIT, melalui bukunya Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011).

Alone together menggambarkan kondisi di mana orang-orang secara fisik bersama, tetapi secara emosional dan psikologis terpisah, karena perhatian mereka lebih tersedot oleh teknologi, terutama ponsel pintar, media sosial, dan perangkat digital lainnya.

"Kita terhubung secara digital dengan ratusan orang, tapi merasa kesepian di dalam," ujar Sherry Turkle.

Fenomena ini sangat sering dijumpai, bahkan mungkin hal yang umum terlihat saat ini. Misal:

  • Ramai-ramai nongkrong di kafe, tapi semuanya sibuk dengan ponselnya masing-masing.
  • Keluarga berkumpul makan bersama, namun lebih banyak berinteraksi lewat chat daripada berbicara langsung.
  • Punya banyak "teman online", tapi tidak punya satu pun tempat curhat yang nyata.

Menurut Sherry Turkle penyebab utama hal ini adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi memberi ilusi koneksi. Kita merasa "berkomunikasi", padahal interaksi dangkal.
  2. Kita bisa mengontrol hubungan digital. Tidak harus lan gsung menanggapi, bisa disunting dulu.
  3. Ketakutan akan kesepian diatasi dengan notifikasi, bukan hubungan nyata.

Baca Juga: Studi: 1 dari 5 Karyawan di Seluruh Dunia Ternyata Kesepian

Menurut Sherry Turkle, “Connection without conversation.” Atau bermakna kurang lebih seperti ini, bahwa kita terlihat ramai “berbindang” di media sosial atau aplikasi chat namun sebenarnya tidak ada perbincangan yang sesungguhnya.

Faktor Utama Rasa Kesepian

Hal ini juga didukung oleh riset/kajian seperti The Loneliness Epidemic yang dilakukan oleh Cigna pada tahun 2020.

Survei Loneliness Index yang dilakukan Cigna pada tahun 2020 terhadap lebih dari 20.000 orang dewasa di AS menunjukkan lebih dari 50% dari responden merasa kesepian.

Angka ini meningkat sekitar 3 dari 5 orang dewasa (sekitar 60%) dari 2018. Suvei ini melaporkan bahwa perasaan kesepian naik sekitar tujuh poin persen dibanding 2018.

Dari survei ini juga menunjukkan bahwa generasi yang paling terpapar adalah Gen Z dan Millenial. GenZ (usia 18-22 tahun) tercatat paling tinggi, yaitu kurang lebih 79%. Sedangkan generasi Millenial kurang lebih 71% yang merasakan kesepian.

Halaman:

Tags

Terkini