PejuangKantoran.com - Bekerja di rumah sewaan sebuah kota budaya, di kafe pinggir pantai, atau di vila yang cantik di pegunungan, memang memberi kesan mewah. Itu sebabnya gaya hidup digital nomad jadi impian banyak orang.
Dengan lebih dari 40 perusahaan rintisan, pengembang perangkat lunak otodidak dan "peretas indie" Pieter Levels mengatakan bahwa ia mampu menghasilkan pendapatan jutaan langsung dari laptopnya sambil berkeliling dunia.
Tetapi meskipun gaya hidup tersebut terkesan glamor, kenyataannya tidak selalu seperti itu. Awalnya Levels merasa seperti orang yang gagal di Asia.
Baca Juga: Mengapa Paus Fransiskus Dikawal oleh Garda Swiss, bukan Tentara Vatikan Berkebangsaan Italia?
“Penghasilan saya sekitar $500 per bulan, dan berpikir, ‘Sekarang saya berusia 27 tahun dan saya gagal,'” katanya. “Saat itulah saya mulai membangun perusahaan rintisan.”
Sebagai nomaden digital, Levels sudah tinggal di 40 negara dan 150 kota. Namun, dalam episode terbaru “Lex Fridman Podcast”, Levels mengaku sering tertekan saat mencoba membangun bisnisnya dan menjadi sukses.
“Kenangan tentang kehidupan solo yang penuh pengembaraan dan individualistis seperti itu terasa romantis,” kata Levels. “Masalahnya, itu nggak bikin saya bahagia.”
Sebuah studi tahun 2018 yang membandingkan kesehatan mental ekspatriat dan pekerja asli AS menemukan bahwa ekspatriat merasa terjebak atau tertekan tiga kali lebih banyak daripada pekerja yang tinggal di AS.
Selain itu, 25% dari 455 ekspatriat yang disurvei mengaku merasa cemas atau tegang, lebih dari dua kali lipat jumlah pekerja yang tinggal di AS yang berpartisipasi dalam survei.
Baca Juga: Tanda-tanda Pewawancara Tidak Tertarik Lagi pada Kandidat saat Wawancara Kerja Masih Berlangsung
Kalau ekspatriat punya keuntungan karena hanya perlu menetap di satu lingkungan baru, pekerja nomaden digital yang tidak menetap di satu tempat harus terus-menerus terbiasa dengan tempat yang berbeda.
"Kita kan bepergian ke mana-mana, pindah dari satu kota ke kota lain," kata Levels. "Kita tidak punya rumah lagi. Kita merasa tercabut."
Psikolog Carolin Müller sebelumnya mengatakan bahwa para pekerja digital nomad lebih sulit untuk menjaga kesehatan mental karena terus-menerus merasa tidak mampu memahami dan dipahami.
"Kamu tidak pernah hidup dalam budaya yang stabil," katanya. “Kamu terus berpindah dari satu budaya ke budaya lain, datang dan pergi, dan terkadang kamu mengalami gegar budaya.”
Pengembara digital lainnya juga berbagi cerita serupa di media sosial tentang perjuangan mereka dengan perasaan terisolasi dan tidak stabil.
Artikel Terkait
Mobil Paus, Dari Ferrari Mondial Hingga Renault 4L
Ini Yang Harus Kamu Lakukan dan Hindari Jika Terkena Mpox
Sempat Diprotes Giant Sea Wall Di Jepang Ini Selamatkan Desa Kecil Dari Tsunami
Prabowo Bertemu Sultan Hassanal Bolkiah Bahas Berbagai Hal di Bidang Pertahanan
Paus Fransiskus Lanjutkan Perjalanan Apostolik ke Papua Nugini dengan Garuda Indonesia
Isi Lengkap Homili Paus Fransiskus saat Misa Akbar di GBK: Pesannya Menyentuh!
Lowongan Kerja Senior Executive, Social Media di Air Asia