PejuangKantoran.com - Untuk merayakan hari jadinya yang ke-10, pada 9 Juli 2023 lalu BTS merilis sebuah buku biografi berjudul Beyond the Story: 10-Year Record of BTS.
Sesuai judulnya, buku ini mengisahkan perjalanan para member BTS sejak masih menjadi trainee hingga sekarang menjadi grup Korea Selatan paling sukses di dunia.
Di salah satu bab, member BTS menceritakan pengalaman bullying yang mereka terima, baik dari para grup senior atau junior yang berasal dari agensi besar, dan orang-orang di Amerika saat menghadiri penghargaan musik di sana.
Baca Juga: Set Playlist Ini Bisa Bantu Kamu Lepas Rindu Suara Suga BTS !
Pengalaman bullying membuat mereka sempat down, bahkan SUGA menyebut masa itu seperti “neraka”.
Sayangnya, banyak orang yang justru merasa BTS “berlebihan” dengan menceritakan pengalaman tersebut. Apalagi hal itu membuat sebagian besar ARMY—penggemar BTS—menjadi berspekulasi tentang oknum yang mem-bully mereka.
Malah ada yang memberikan komentar bahwa member BTS tidak seharusnya menceritakan pengalaman bullying di masa remaja mereka. Cara itu disebut “tidak dewasa”.
Sebenarnya, apa yang bisa dilakukan agar pulih dari trauma akibat bullying saat remaja?
Dampak bullying saat remaja di usia dewasa
Penelitian menunjukkan bahwa intimidasi yang dialami di masa kanak-kanak mungkin sangat traumatis sehingga kamu masih bisa merasakan efeknya hingga hari ini.
Orang yang di-bully mungkin jadi meragukan diri sendiri, sulit memercayai orang lain, dan tidak memiliki persahabatan yang berkualitas. Apalagi jika dia tidak mendapatkan “penyembuhan” dan “penutupan”.
Ada 10 hal yang dapat dilakukan agar pulih dari trauma akibat bullying:
1. Akui bullying yang terjadi
Korban bullying sering mengabaikannya atau berpura-pura hal itu tidak terjadi. Padahal mengabaikan pengalaman itu membuatnya menerima perasaan bersalah, malu, dan menyalahkan diri sendiri.
Satu-satunya cara untuk memulai proses penyembuhan adalah dengan menyadari bahwa bullying itu terjadi dan kamu tidak bertanggung jawab atas kejadian itu.