PejuangKantoran.com - PHK massal yang melanda dunia kerja membuat para pekerja merasa terjebak di depan laptop, scrolling lowongan kerja berjam-jam tanpa henti. Rasanya kayak lagi baca berita buruk terus-terusan, padahal niatnya cuma mencari pekerjaan. Nah, fenomena ini sekarang punya nama: doomjobbing.
Istilah ini gabungan dari kata doomscrolling (kebiasaan scroll media sosial saat cemas) dan job searching. Kita jadi terus-terusan me-refresh situs lowongan kerja karena takut ketinggalan peluang kerja.
Jonathan Clanton, seorang pencari kerja, sangat merasakan dampaknya setelah kena PHK. Dia merasa terjebak dalam lingkaran setan yang melelahkan.
Baca Juga: Gojek Ubah Skema Bagi Hasil: Driver Terima Penghasilan 92%, Penumpang Tetap Bayar Sama
“Rasanya kayak kecanduan media sosial, tapi dicampur sama rasa cemas yang mendalam karena harus banget dapat kerjaan,” jelasnya.
Penyebab doomjobbing
Pasar kerja sekarang ini memang lagi susah banget. Dulu kita diajarkan, kalau mau cari kerja, buka saja situs lowongan. Tapi sekarang, satu lowongan kerja bisa diperebutkan ratusan bahkan ribuan orang dalam sekejap.
Data menunjukkan, rata-rata satu posisi bisa menerima ratusan lamaran. Akhirnya, banyak orang merasa harus melamar sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya supaya ada yang "nyangkut".
Masalahnya, doomjobbing justru bikin kita makin stres. Phoebe Gavin, career coach di Better with Phoebe, bilang kalau kebiasaan ini sebenarnya nggak efektif. Meski awalnya bikin kita merasa sudah berusaha, ujung-ujungnya malah bikin kita makin merasa putus asa.
Sebenarnya, doomjobbing merupakan cerminan otak kita untuk mencoba mencari stabilitas di tengah situasi yang nggak pasti. Banyak hal dalam proses kerja yang di luar kendali kita, sehingga kita akhirnya melakukan hal yang bisa kita kontrol, yaitu melamar kerja terus-menerus. Padahal, kualitas lamaran jauh lebih penting daripada kuantitas.
Baca Juga: Hanung Bramantyo Terapkan Sistem Kerja yang Ramah Anak di Lokasi Syuting 'Children of Heaven'
Clanton sendiri akhirnya sadar kalau mengikuti pola tersebut bikin capek banget. “Mustahil bisa ngikutin semuanya,” akunya.
Memang benar, persaingan sekarang sangat ketat, dan waktu pun jadi taruhan. Tapi, terlalu sering mengecek feed lowongan kerja justru bisa mengganggu kesehatan mental kita.
Jadi, buat kamu yang lagi berjuang mencari pekerjaan, coba batasi waktumu. Jangan sampai waktumu habis cuma buat scrolling situs lowongan. Lebih baik fokus buat memperbaiki CV, latihan interview, atau menjalin relasi.
Proses mencari pekerjaan memang berat, tapi kesehatan mentalmu jauh lebih berharga daripada lamaran yang kamu kirim setiap hari. Jangan sampai kamu tumbang gara-gara terlalu sering doomjobbing.