Pejuangkantoran.com – Tentu kamu tidak asing dengan frasa berikut ini yang sering sekali dijumpai dalam meeting bisnis: “OK, akan segera kamu FU (follow up) setelah ini. Nanti kami kabari lagi.”
FU atau follow up, menurut Cambridge Business English Dictionary, berarti mencari tahu lebih lanjut atau mengambil tindakan lanjutan yang berkaitan dengan sesuatu yang sudah terjadi sebelumnya.
Follow up itu aka nada tindak lanjut untuk memperoleh informasi, perkembangan, respons, atau tindakan berikutnya.
Namun ternyata ada juga frasa yang mirip namun jarang sekali terdengar atau disampaikan tapi ternyata jauh lebih advance dalam urusan bisnis, yaitu follow through.
Follow through adalah kemampuan untuk menindaklanjuti sesuatu sampai benar-benar selesai atau menghasilkan hasil yang dijanjikan atau memastikan komitmen terlaksana. Jadi konsepnya lebih dekat pada execution, completion, ownership, dan accountability.
Jadi, tidak seperti follow up, follow through bukan sekadar akan menghubungi kembali, namun sudah melakukan hal-hal yang bertujuan memenuhi janji, yaitu:
Baca Juga: Memahami Pentingnya Undangan atau Ajakan Klien dan Cara Profesional Menolaknya
- Menindaklanjuti — tidak membiarkan permintaan atau masalah berhenti setelah pembicaraan awal.
- Menjaga komitmen — melakukan apa yang sudah dijanjikan.
- Memantau progres — memastikan proses berjalan sesuai rencana.
- Menyelesaikan sampai tuntas — memastikan ada closure, bukan hanya "sudah saya teruskan".
- Memberi kabar kembali — menginformasikan hasil atau perkembangan kepada pihak yang berkepentingan.
Lalu kapan menggunakan follow up, kapan menggunakan follow through?
Sebenarnya follow up dan follow through bukan pilihan "kapan memakai yang mana". Dalam pekerjaan profesional, keduanya biasanya dilakukan berurutan.
Urutannya: ketika ada permintaan/komitmen, maka akan dilanjut dengan follow up, lalu follow through, dan diakhir dengan closure (pekerjaan selesai tuntas).
Gambarannya seperti berikut:
Baca Juga: 10 Keterampilan Wajib Seorang Relation Manager Agar Tidak Blunder
- Situasi 1: baru selesai percakapan atau belum ada respon dari pihak lain. Yang dilakukan: follow up. Contoh: “Saya akan cek ke bagian purchasing dan akan memberi kabar”
- Situasi 2: sudah ada tindakan awal tetapi belum selesai atau ada hambatan. Yang dilakukan: follow through. Contoh: “Saya sudah teruskan hal ini ke tim developer dan akan saya monitor sampai selesai.”
- Situasi 3: masalah sudah selesai. Yang dilakukan: closure. Contoh: “Saya kobfirmasi bahwa order dari Bapak sudah seslai diproses dan sudah dikirim.”
Kuncinya adalah pada status pekerjaan. Follow up digunakan ketika kamu perlu kembali berkomunikasi untuk mengecek, mengingatkan, meminta informasi, atau memberikan update.
Sedangkan follow through digunakan ketika kamu sudah memiliki komitmen atau tanggung jawab yang harus dikawal sampai hasil akhirnya tercapai.