Ketika AI Bisa Memanipulasi Biaya dan Mempengaruhi Keputusan di Divisi Keuangan, Siapa Bertanggung Jawab?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 27 Agustus 2026 | 22:38 WIB
Ilustrasi: Perusahaan makin sering mengandalkan AI untuk memengaruhi keputusan, namun belum ada yang bertanggung jawab saat keputusan itu salah. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi: Perusahaan makin sering mengandalkan AI untuk memengaruhi keputusan, namun belum ada yang bertanggung jawab saat keputusan itu salah. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

PejuangKantoran.com - Teknologi dibuat untuk memudahkan pekerjaan kita. Namun di tangan yang salah, teknologi juga bisa merugikan. Misalnya, AI sekarang membuat praktik kecurangan (fraud) biaya di tempat kerja jadi gampang banget.

Berdasarkan riset Emburse, sebanyak 40% pekerja di AS dan 29% di Inggris mengaku pernah menggunakan AI untuk memanipulasi atau membuat kuitansi palsu.

Bahkan, 19% pekerja AS pernah nekat membuat bukti pembelian fiktif secara utuh. Lalu, 40% di antaranya memanfaatkan tools AI yang justru dibiayai perusahaan tempat mereka bekerja.

Baca Juga: Kecurangan Kecil di Tempat Kerja Makin Dianggap Lumrah, Waspada Bibit Budaya Korupsi di Kantor!

Kombinasi antara kemudahan teknologi dan desakan ekonomi (27% pekerja memasukkan pengeluaran pribadi ke laporan kantor) memicu ancaman ganda bagi perusahaan. Ketika alat fiktif semakin canggih, budaya toleransi terhadap kecurangan finansial terus membesar.

Celah pengawasan

Sebanyak 93% profesional keuangan cemas dengan potensi penipuan yang mengandalkan AI dalam 12 bulan ke depan. Di AS, kerugian akibat penipuan faktur (invoice) mencapai rata-rata $168.000 (sekitar Rp2,9 miliar) per perusahaan setiap tahunnya.

AI generatif bisa bikin bukti transfer dan nota belanja yang sangat meyakinkan, sehingga transaksi asli dan palsu jadi sulit dibedakan.

Di sisi lain, penggunaan AI di perusahaan berjalan cepat tanpa aturan yang jelas:

  • 38% divisi keuangan telah mengoperasikan agentic AI (AI otonom).
  • 50% divisi lainnya berencana menerapkannya dalam 1 tahun ke depan.
  • 46% responden mengakui bahwa batas kewenangan analisis manusia (human approval) hanya dipahami secara informal tanpa dokumen resmi.

Saat AI melakukan kesalahan

Baca Juga: Lembaga PBB UN Women Indonesia Buka Lowongan Kerja Sign Language Interpreter (Retainer)

Ketika kesalahan AI menyebabkan kerugian finansial, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah bos IT, manajer keuangan, atau karyawan yang menjalankan rekomendasi AI tersebut?

Padahal, 45% petinggi keuangan menyebut tim mereka sering mengeksekusi saran AI tanpa verifikasi manusia. 

"Perusahaan makin nyaman membiarkan AI memengaruhi keputusan, namun banyak yang belum memiliki kepemilikan tanggung jawab yang jelas saat keputusan itu salah.

"Transparansi, tata kelola, dan akuntabilitas sama pentingnya dengan akurasi," jelas Chief Transformation & Information Officer Medius, Ahmed Fessi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fairplaytalks.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X