Prihatin Bukan Main! Semakin Banyak Gen Z yang Memilih Tidak Bekerja dan Tidak Sekolah

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 24 Juni 2024 | 10:56 WIB
llustrasi: Menurut International Labour Organization, sekitar seperlima orang berusia 15 sampai 24 tahun di seluruh dunia masuk dalam kategori NEET. (Freepik/Jcomp)
llustrasi: Menurut International Labour Organization, sekitar seperlima orang berusia 15 sampai 24 tahun di seluruh dunia masuk dalam kategori NEET. (Freepik/Jcomp)

PejuangKantoran.com - Bulan Mei lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pada Agustus 2023, ada sebanyak 22,25 persen dari 44,7 juta anak muda golongan Gen Z tidak bekerja dan tidak sekolah.

Mereka adalah kelompok usia 15 hingga 24 tahun, atau sebesar 9,9 juta orang menurut data tersebut.

Mereka termasuk dalam kategori NEET (not in employment, education, and training) atau tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak sedang mengikuti pelatihan.

Yang memprihatinkan, kelompok yang paling banyak masuk dalam kategori NEET justru berada di daerah perkotaan, yakni 5,2 juta orang. Sedangkan sisanya 4,6 juta ada di pedesaan.

Baca Juga: Vino S. Bastian dan Angga Yunanda Jadi Kakak-adik di Remake Film Korea, My Annoying Brother

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Menurut International Labour Organization (Organisasi Perburuhan Internasional), sekitar seperlima orang berusia 15 sampai 24 tahun di seluruh dunia pada tahun 2023 adalah NEET.

Di Spanyol, lebih dari setengah juta anak di kisaran usia tersebut tidak bersekolah atau bekerja. Sementara itu di Inggris, hampir tiga juta Gen Z kini digolongkan tidak aktif secara ekonomi, di mana 384.000 anak muda bergabung dalam kelas “tidak bekerja” sejak pandemi.

Parahnya, hal itu mereka lakukan bukan karena terpaksa, melainkan karena pilihan. Gen Z tidak bekerja dan tidak sekolah karena menolak untuk bertumbuh dan menjalani tonggak penting kehidupan menuju masa dewasa.

Mereka memilih untuk menjadi NEET dan menciptakan tingkat pengangguran kaum muda yang mencapai rekor tertinggi di seluruh dunia.

Pekerjaan yang santai

Penelitian-penelitian tersebut tidak menyelidiki apa yang menginspirasi kaum muda untuk meninggalkan persaingan dan memilih hidup di bawah naungan orangtua mereka atau dengan subsidi pemerintah.

Baca Juga: Ternyata, Ini yang Bikin Rani “Ipar adalah Maut” Tak Merasa Bersalah Berselingkuh dengan Kakak Iparnya

Namun penelitian terpisah menyoroti bahwa meskipun mereka mulai bekerja, hampir tidak mungkin mereka berencana untuk membeli rumah sendiri.

Bahkan mereka yang memang ingin bekerja, tidak ingin berkarir. Sebaliknya, banyak lulusan baru yang mencari pekerjaan santai yang tidak membuat mereka harus lembur secara rutin, jam kerja antisosial, atau tanggung jawab yang membutuhkan upaya seperti mengelola tim besar.

Ada juga yang menghindari kerjaan kantoran. Peran paling menarik saat ini bagi lulusan baru adalah mengajar, di mana gaji rendah diimbangi dengan liburan berminggu-minggu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune, Kompas.com, Yahoo Finance

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X