Fleksibel dan Terukur, Ini Strategi BRI Jaga Pertumbuhan Bisnis Di Tengah Dinamika Ekonomi Global
Pejuangkantoran.com – Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal adalah rasio yang membandingkan modal bank dengan risiko yang dihadapi.
CAR digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menanggung risiko kerugian. Semakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko.
Tujuan CAR adalah untuk:
- Memastikan bank dapat menyerap kerugian dalam jumlah yang wajar;
- Memastikan bank mematuhi persyaratan modal yang ditetapkan undang-undang;
- Melindungi deposan;
- Meningkatkan stabilitas dan efisiensi sistem keuangan.
CAR BRI yang tinggi menunjukkan fondasi yang kuat untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko. Saat ini, CAR BRI tercatat lebih dari 26%, jauh di atas threshold Basel III, sementara BRI sebenarnya hanya membutuhkan CAR sebesar 17,5% untuk meng-cover risiko sesuai ketentuan.
Direktur Utama BRI Sunarso, dalam podcast “BBRI Pilar Utama Perbankan Nasional: Peluang Besar di 2025” di kanal YouTube Hermanto Tanoko, menyoroti bahwa CAR sangat penting untuk menjaga keberlanjutan operasional, dan ini menjadi salah satu bagian dari strategi BRI dalam menghadapi ketidak pastian global.
Baca Juga: Jaga Stabilitas Kinerja, BRI Catat Laba Bersih Konsolidasi Sebesar Rp60,64 Triliun pada 2024
Langkah-Langkah Strategis BRI
Ketidakpastian global terus menjadi tantangan besar di berbagai sektor, termasuk perbankan. Fluktuasi pasar, kompleksitas isu global, serta dinamika domestik menuntut kesiapan strategic respons yang tepat.
Di tengah kondisi tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) terus menunjukkan kemampuannya dalam mempertahankan kinerja yang solid sekaligus menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Sunarso menegaskan bahwa Perseroan memiliki komitmen untuk terus berkontribusi pada perekonomian nasional. Kendati dihadapkan pada berbagai tantangan, BRI tetap optimistis terhadap tren profitabilitas 2025-2026.
Mengedepankan prinsip kehati-hatian, BRI berstrategi ‘wait and see' untuk merespons dinamika pasar sekaligus mengembangkan pendekatan yang fleksibel dan terukur.
“Jika tantangannya tidak lebih buruk dari sekarang, kita masih bisa bertahan. Namun, jika tantangannya memburuk, kita harus punya plan B. Apa yang harus kita perketat, mana yang harus kita jaga, kita sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi kondisi yang lebih buruk,” ungkapnya.
Berbagai langkah strategis telah disiapkan BRI untuk menjaga stabilitas dan kinerja bisnis, termasuk rencana cadangan untuk mengantisipasi potensi krisis. Dalam konteks ini, Sunarso kerap menggambarkan pendekatan BRI dengan analogi kompetisi sepak bola.
Artikel Terkait
Umrah Travel Fair 2025 Hasil Kolab bareng BRI dan Garuda Indonesia, Bikin Ibadah Makin Mudah
BRI Menanam di Tanjung Prepat: Sukses Serap Karbon dan Tingkatkan Ekonomi Lokal
Berkat Dukungan Pemberdayaan BRI, Usaha Sepatu Lokal Asal Malang Sukses Menembus Pasar Global
Balee Scents Membawa Wewangian Aromaterapi Indonesia Melangkah ke Pasar Dunia Bersama BRI
Tak Hanya Memperkuat Ekonomi Kerakyatan, Konsistensi Melayani UMKM, BRI Juga Cetak Laba Rp60,64 Triliun!
Pemerintah Apresiasi Keberpihakan BRI dalam Mendorong UMKM Naik Kelas dan Go Global
Bersama BRI Ethnic Gendhis Hadirkan Batik Modern untuk Gen Z