PejuangKantoran.com - Ketika pandemi Covid-19 terjadi, banyak perusahaan yang beralih ke remote working. Setelah situasi pandemi berangsur membaik, sistem kerja hybrid tetap bertahan meski banyak atasan yang beranggapan kalau bekerja dari kantor bikin karyawan lebih produktif.
Kini, muncul hasil studi dari Adobe for Business yang mensurvei lebih dari 1.000 karyawan full time. Studi ini untuk mengetahui apakah karyawan hybrid (gabungan antara bekerja dari kantor dan dari rumah) sebenarnya lebih produktif daripada mereka yang full WFO dan full WFH.
Dari survei tersebut diketahui, lebih dari separuh karyawan hybrid (56%) merasa mereka lebih produktif saat ini daripada tahun lalu. Namun 77% mengaku bahwa mereka jadi bekerja lebih lama daripada jam kerja yang biasa. Angka tersebut tertinggi dari jenis lokasi kerja yang dianalisis.
Baca Juga: Cari Side Job? Nih, Penyedia Tur Planetwonk Buka Lowongan Kerja Political Tour Guide
Mengapa mereka jadi bekerja lebih lama?
Ternyata mereka harus membalas email dan pesan-pesan lain, dan ini merupakan tugas di luar jam kerja yang paling banyak dilakukan. Jumlah karyawan hybrid yang melakukannya sebanyak 44%, sedangkan mereka yang full WFO adalah yang paling jarang melakukan, yaitu sebesar 31%.
Buat karyawan hybrid, kemungkinan mereka untuk melakukan riset atau memecahkan masalah yang rumit di luar jam kerja ternyata 91% lebih besar daripada karyawan yang WFO.
Tugas yang bisa diotomatisasi
Yang menarik, karyawan hybrid punya tugas yang paling banyak diotomatisasi daripada pengaturan kerja lainnya. Meski begitu, mereka yakin setidaknya ada 30% lebih tugas yang masih bisa diotomatisasi.
Karyawan juga melihat bahwa otomatisasi AI bisa sangat membantu mengurangi waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas berdampak rendah. Dengan otomatisasi tersebut, mereka berharap bisa lebih fokus meningkatkan kualitas kerja dan lebih mampu mencapai work-life balance.
Saat ini otomatisasi AI masih terbatas, karena hanya 11% tugas harian yang diotomatisasi. Tetapi mereka yakin kalau tugas-tugas yang bisa diotomatisasi itu bisa mencapai seperempatnya.
Baca Juga: Bos OpenAI Sam Altman Selalu Menulis Pesan dengan Huruf Kecil, Mengapa Ini Tak Boleh Ditiru?
Untuk meningkatkan work-life balance, 81% karyawan hybrid merasa hal itu bisa dicapai melalui sistem manajemen proyek yang terpadu. Karyawan di bidang marketing (54%) dan keuangan (53%) tercatat yang paling mengharapkan adanya alur kerja terpadu untuk mengurangi stres.
Dari survei Adobe for Business tersebut kita jadi tahu bahwa produktivitas akan meningkat ketika perusahaan mampu mengatasi tantangan seperti waktu yang terbuang untuk tugas-tugas yang kurang penting, otomatisasi yang jarang digunakan, dan alur kerja seperti apa yang ternyata malah memperlambat kerja tim.
Meski begitu, solusinya bukan dengan meminta karyawan bekerja lebih keras atau lebih cepat, melainkan dengan memberikan keseimbangan antara kejelasan, tools, dan proses kerja, sehingga karyawan bisa fokus pada pekerjaan yang paling penting.
Artikel Terkait
Bukan Ngisi TTS atau Main Game, Ini Jenis Kegiatan yang Bikin Otak Tajam sampai Tua!
Latihan Wall Sit Sangat Bermanfaat Bagi Pelari yang Peduli Dengan Lututnya
Agility Quotient, ketika Karyawan yang Agile Lebih Cepat Beradaptasi dengan Perubahan
Kenapa Mie Imlek Tak Boleh Dipotong? Ini Maknanya
Kenapa Umat Katolik Terima Abu di Dahi? Ini Arti Sebenarnya Rabu Abu
Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Kamu Punya Agility Quotient Tinggi? Apa Ciri-cirinya?
'Pelangi di Mars', Wujud Ambisi Produser dan Sutradara Menggarap Film Sci-Fi selama 5 Tahun