77% Karyawan Hybrid Mengaku Bekerja Melebihi Jam Kerja, Terutama untuk Membalas Email

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 19 Februari 2026 | 10:49 WIB
Ilustrasi: Sebanyak 44% karyawan hybrid harus membalas email dan pesan-pesan lain di luar jam kerja yang ditetapkan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi: Sebanyak 44% karyawan hybrid harus membalas email dan pesan-pesan lain di luar jam kerja yang ditetapkan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

PejuangKantoran.com - Ketika pandemi Covid-19 terjadi, banyak perusahaan yang beralih ke remote working. Setelah situasi pandemi berangsur membaik, sistem kerja hybrid tetap bertahan meski banyak atasan yang beranggapan kalau bekerja dari kantor bikin karyawan lebih produktif.

Kini, muncul hasil studi dari Adobe for Business yang mensurvei lebih dari 1.000 karyawan full time. Studi ini untuk mengetahui apakah karyawan hybrid (gabungan antara bekerja dari kantor dan dari rumah) sebenarnya lebih produktif daripada mereka yang full WFO dan full WFH.

Dari survei tersebut diketahui, lebih dari separuh karyawan hybrid (56%) merasa mereka lebih produktif saat ini daripada tahun lalu. Namun 77% mengaku bahwa mereka jadi bekerja lebih lama daripada jam kerja yang biasa. Angka tersebut tertinggi dari jenis lokasi kerja yang dianalisis.

Baca Juga: Cari Side Job? Nih, Penyedia Tur Planetwonk Buka Lowongan Kerja Political Tour Guide

Mengapa mereka jadi bekerja lebih lama?

Ternyata mereka harus membalas email dan pesan-pesan lain, dan ini merupakan tugas di luar jam kerja yang paling banyak dilakukan. Jumlah karyawan hybrid yang melakukannya sebanyak 44%, sedangkan mereka yang full WFO adalah yang paling jarang melakukan, yaitu sebesar 31%.

Buat karyawan hybrid, kemungkinan mereka untuk melakukan riset atau memecahkan masalah yang rumit di luar jam kerja ternyata 91% lebih besar daripada karyawan yang WFO.

Tugas yang bisa diotomatisasi

Yang menarik, karyawan hybrid punya tugas yang paling banyak diotomatisasi daripada pengaturan kerja lainnya. Meski begitu, mereka yakin setidaknya ada 30% lebih tugas yang masih bisa diotomatisasi.

Karyawan juga melihat bahwa otomatisasi AI bisa sangat membantu mengurangi waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas berdampak rendah. Dengan otomatisasi tersebut, mereka berharap bisa lebih fokus meningkatkan kualitas kerja dan lebih mampu mencapai work-life balance.

Saat ini otomatisasi AI masih terbatas, karena hanya 11% tugas harian yang diotomatisasi. Tetapi mereka yakin kalau tugas-tugas yang bisa diotomatisasi itu bisa mencapai seperempatnya.

Baca Juga: Bos OpenAI Sam Altman Selalu Menulis Pesan dengan Huruf Kecil, Mengapa Ini Tak Boleh Ditiru?

Untuk meningkatkan work-life balance, 81% karyawan hybrid merasa hal itu bisa dicapai melalui sistem manajemen proyek yang terpadu. Karyawan di bidang marketing (54%) dan keuangan (53%) tercatat yang paling mengharapkan adanya alur kerja terpadu untuk mengurangi stres.

Dari survei Adobe for Business tersebut kita jadi tahu bahwa produktivitas akan meningkat ketika perusahaan mampu mengatasi tantangan seperti waktu yang terbuang untuk tugas-tugas yang kurang penting, otomatisasi yang jarang digunakan, dan alur kerja seperti apa yang ternyata malah memperlambat kerja tim.

Meski begitu, solusinya bukan dengan meminta karyawan bekerja lebih keras atau lebih cepat, melainkan dengan memberikan keseimbangan antara kejelasan, tools, dan proses kerja, sehingga karyawan bisa fokus pada pekerjaan yang paling penting.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Betanews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X