Pejuangkantoran.com – Slippery slope of dishonesty adalah “jebakan betmen” yang akan menjerumuskan perilaku koruptif yang makin dalam.
Slippery slope of dishonesty adalah kebohongan-kebohongan kecil yang dinormalisasi yang pada akhirnya akan membuat pelaku “terpeleset lereng curam kebohongan” sehingga menjadi kebohongan yang lebih besar.
Inilah cikal bakal korupsi. Perilaku seperti ini bisa kita temui di mana saja. Misal, jika di kantor, mark up kecil-kecilan dari pembelian ATK, kebiasaan telat masuk meskipun cuma beberapa menit, membiarkan dan menutupi kesalahan-kesalahan kecil, dan sebagainya.
Terkadang, hal-hal semacam itu terlihat terang-terangan. Namun bagi sebagian karyawan, hal ini membuat risih dan tidak nyaman.
Sudah sewajarnya jika kamu yang masuk dalam kategori risih dan tidak nyaman dengan praktik ini mengingatkan dan mencegah terjadinya slippery slope of dishonesty, karena dampaknya bisa menyeluruh ke organisasi.
Namun, perlu strategi dalam mencegah atau mengingatkan. Dalam psikologi organisasi, ada satu konsep yang diistilahkan sebagai leading by quiet example atau memimpin melalui teladan yang tenang.
Pendekatan ini tidak mencari perhatian atau konfrontasi, tetapi membangun pengaruh melalui konsistensi perilaku. Seiring waktu, rekan kerja cenderung melihat kamu sebagai orang yang dapat dipercaya, sehingga masukan kamu memiliki bobot lebih besar.
Begini caranya:
- Bangun kredibilitas sebelum mencoba mengubah budaya
Bagi kamu yang orang baru, "modal" utama kamu adalah reputasi. Fokuslah terlebih dahulu pada hal-hal seperti bekerja tepat waktu, menghasilkan pekerjaan berkualitas, membantu rekan kerja, memahami prosedur organisasi.
Orang lebih mudah menerima masukan dari seseorang yang sudah dikenal kompeten dan dapat dipercaya.
- Jadikan integritas sebagai kebiasaan pribadi, bukan slogan
Daripada sering berbicara tentang kejujuran, lebih baik menunjukkannya dalam pekerjaan sehari-hari. Misalnya, selalu menggunakan data yang benar, mengakui jika belum mengetahui sesuatu, memperbaiki kesalahan sendiri, atau tidak melebih-lebihkan hasil kerja.
Perilaku yang konsisten sering kali lebih berpengaruh daripada ceramah tentang etika.
- Gunakan bahasa yang berorientasi pada kualitas, bukan moralitas
Komunikasi efektif adalah kunci. Gunakan bahasa yang tepat. Misal, daripada berkata:
"Ini tidak jujur." Coba ganti dengan kalimat "Kalau datanya akurat, keputusan yang diambil akan lebih tepat." atau "Supaya nanti kalau diaudit, dokumennya sudah konsisten."
Artikel Terkait
Siapa yang Pertama Membongkar Kasus Korupsi Pertamina yang Rugikan Negara Rp968, 5 Triliun?
Bagaimana Cara Menilai Orang Bohong atau Jujur? Lihat Saja Fokus dan Relevansi Ceritanya!
Jangan Suka Bohong di CV tentang Hal Ini, Bisa Membuat Kamu Susah Dapat Kerja di Masa Depan!
Berhenti Sibuk Berusaha Terlihat Keren! Bukan Gaya yang Bikin Karir Naik, tapi Kredibilitas Kamu
Tidak Semua Penjilat di Kantor Itu Buruk: Cara Jadi Karyawan Kesayangan Bos Tanpa Kehilangan Integritas