Menurut WHO Kabut Asap Akibat Karhutla Jauh Lebih Berbahaya Daripada Debu Biasa Bagi Kesehatan Manusia

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:35 WIB
Ilustrasi: Kabut asap yang diakibatkan oleh bencana kebakaran hutan dan lahan jauh lebih berbahaya daripada debu biasa. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi: Kabut asap yang diakibatkan oleh bencana kebakaran hutan dan lahan jauh lebih berbahaya daripada debu biasa. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Jangan sepelekan asap akibat kebakaran hutan/lahan. Jauh lebih membahayakan dari debu bisa.

Kabut asap karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau wildfire smoke, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam web site mereka, menyebutkan bahwa ini adalah campuran antara gas dan partikel-partikel halus hasil dari terbakarnya pohon-pohon, tanaman, bangunan buatan manusia, dan material lain.

Kabut asap ini terdiri dari gas dan partikel yang dikandung dalam kabut asap itu terdiri dari PM2.5, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO₂), hidrokarbon/VOC, benzene, aldehida, dan berbagai senyawa lainnya.
PM2.5 (Particulate Matter 2.5) adalah kandungan kabut asap yang paling berbahaya bagi kesehatan. Ini adalah partikel udara yang sangat kecil ukurannya.

Diameter PM2.5 sekitar 2,5 mikrometer (µm) atau lebih kecil (lebih kecil dari diameter rambut manusia) dan sangat aerodinamis. Karena ukurannya yang sangat kecil ini, WHO (Worl Health Organization) menyebutkan bahwa PM2.5 dapat masuk jauh ke paru-paru dan sebagian bisa masuk ke aliran darah.

Baca Juga: Viral Pengendara di Kalsel Saling Bunyikan Klakson Sebagai Tanda, Karena Kabut Asap Karhutla

PM2.5 sangat berbahaya bagi kesehatan kita, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, paparan PM2.5 yang tinggi dapat menyebabkan:

  • iritasi mata, hidung, dan tenggorokan,
  • batuk dan sesak napas,
  • napas berbunyi/mengi,
  • penurunan fungsi paru,
  • memperburuk asma dan penyakit paru,
  • meningkatkan risiko masalah kardiovaskular pada orang rentan.

Sementara, dalam jangka panjang (karena paparan berulang atau berkepanjangan), ini bisa meningkatkan risiko:

  • penyakit jantung coroner,
  • stroke,
  • Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD),
  • kanker paru,
  • gangguan kesehatan pernapasan kronis.

Baca Juga: Kabut Asap Dari Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya. Gunakan Masker yang Tepat Seperti Berikut Ini!

Mengapa Lebih Berbahaya Dari Debu?

Tak hanya itu WHO juga menyebutkan bahwa  polusi udara (terutama PM2.5) tidak lagi dipandang hanya sebagai masalah paru-paru. Dari bukti baru, dampaknya dapat bersifat sistemik, yaitu memengaruhi berbagai organ setelah partikel atau respons biologis akibat paparan masuk ke dalam tubuh.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa PM2.5 lebih berbahaya daripada debu biasa? Ternyata yang sangat berpengaruh bukan hanya jumlah partikel, tetapi ukuran partikelnya.

PM10, misal debu, dapat masuk ke saluran pernapasan. Namun, dengan ukuran yang lebih kecil lagi, PM2.5 dapat masuk lebih dalam lagi hingga alveoli. Alveoli adalah kantung-kantung udara yang sangat kecil di dalam paru-paru, tempat utama terjadinya pertukaran gas antara udara dan darah.

Ketika PM2.5 sampai masuk ke alveoli, karena ukurannya, sebagian dapat masuk ke aliran darah. Akibatnya, dampaknya tidak hanya pada paru-paru, tetapi dapat memengaruhi sistem kardiovaskular dan organ lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: cdc.gov, WHO, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X