PejuangKantoran.com - Konflik berkepanjangan di Palestina yang belum kunjung usai hingga kini, rugikan lebih dari 200.000 pekerja lokal dan migran.
"Ada lebih dari 200.000 pekerja lokal dan migran terdampak, khususnya di Tepi Barat," kata pernyataan termutakhir Otoritas Palestina atau PA dalam warta BBC.com edisi Minggu 18 Februari 2024.
Seorang pekerja migran asal India untuk bidang konstruksi di Tepi Barat, Kamal Karaja mengakui, sebelum konflik di Palestina, dia mendapat gaji bulanan 3500 dollar AS atau 54,6 juta rupiah.
"Sekarang saya hanya menganggur di rumah karena konflik di Palestina," kata Kamal Karaja.
Bulan depan, rencana Kamal Karaja, dirinya akan menjual mobilnya lantaran masalah finansial yang dialaminya.
Konflik di Palestina
Kamal Karaja mengakui , selama konflik di Palestina, pendapatannya kian tak menentu.
"Bahkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok, saya makin kesulitan," tutur Kamal Karaja.
Otoritas Palestina atau PA mengakui bahwa kondisi ekonomi di wilayah konflik di Palestina semakin tak menentu.
Sementara itu, lebih dari 200000 pekerja migran di Tepi Barat, misalnya, berada dalam masalah finansial atau keuangan yang sama dengan Kamal Karaja.
Selain dari India, pekerja migran di wilayah konflik di Palestina berasal dari China, Thailand, Moldova, dan Srilanka.
Sementara itu, ada juga 105000 pekerja lokal warga Palestina bekerja di proyek-proyek konstruksi di wilayah Israel, seteru perang di wilayah konflik di Palestina dengan Hamas.
Kini, harapan mereda hingga selesainya konflik di Palestina belum kelihatan.