PejuangKantoran.com - Pada 2030, AI atau Artificial Inteligence jadi ancaman perempuan pekerja.
Riset terkini dalam laporan Washingtonpost.com menyebut bahwa sampel mengenai kian besarnya peran AI atau Kecerdasan Buatan di sektor pekerjaan dan industri ada di Amerika Serikat.
Riset itu menyebut bahwa sekitar sepertiga jam kerja di Amerika Serikat semakin menjadi porsi AI.
"Pengambilalihan sepertiga jam kerja di Amerika Serikat oleh AI terlaksana secara otomatis," bunyi riset itu.
Setidaknya, lanjut riset itu, ada tiga sektor industri akan lebur dalam otomatisasi dan digitalisasi.
Pada kedua proses itu, risiko pengurangan tenaga kerja manusia tak terelakkan.
"Ketiga sektor itu adalah industri layanan makanan, industri layanan pelanggan dan penjualan, serta industri pendukung kerja perkantoran," kata riset itu.
Di Amerika Serikat, ketiga sektor itu, normalnya, banyak menyerap pekerja perempuan.
"Pada sektor-sektor itu, pekerja perempuan mendapatkan upah lebih rendah ketimbang pekerja lelaki," kata riset itu.
Riset juga menyebut pekerja perempuan pada ketiga sektor industri itu rata-rata berasal dari tingkat pendidikan nongelar.
Perempuan pekerja
Data juga menunjukkan 12 juta orang akan terpaksa mencari pekerjaan baru gegara makin besarnya pemanfaatan AI di dunia industri.
"Industri di tempat mereka bekerja mengalami penurunan," kata riset itu.
Lantas, kebanyakan dari 12 juta pekerja ini ada di level gaji paling rendah.