news

22% Konsumen Indonesia Bersedia Membeli Barang Preloved, Khususnya Pakaian dan Sepatu

Selasa, 18 Juni 2024 | 16:58 WIB
Ilustrasi: Sebanyak 22% konsumen Indonesia senang membeli barang-barang preloved yang tergolong fast fashion. (Freepik/Wavebreak Media Micro)

PejuangKantoran.com - Saat seorang selebriti keluar dengan tren busana yang baru muncul di salah satu fashion week, penggemar fashion menginginkan pakaian yang sama, dan mereka tidak ingin menunggu terlalu lama.

Maka, produsen pun meniru apa yang baru mereka lihat di atas catwalk atau usai seorang selebriti memposting fotonya di media sosial.

Singkatnya, itulah yang disebut fast fashion. Produsen mengantisipasi tren baru begitu muncul di media sosial, dan menerjemahkannya ke publik dengan sangat cepat, dengan harga yang terjangkau.

Baca Juga: Lowongan Kerja Manager Copywriter di Klinik Bayi Tabung Morula IVF Indonesia

Limbah tekstil

Fast fashion terjadi karena industri mode ingin menghasilkan banyak uang dengan cepat. Merek–merek seperti ASOS, Urban Outfitters, Free People, Missguided, atau Primark, memproduksi duplikat massal busana-busana dari fashion week segera setelah media sosial dimulai membicarakannya.

Salah satu pilar yang menjadi landasan fast fashion adalah produksinya yang massal. Fast fashion menawarkan pakaian murah dan trendi tetapi koleksinya berubah secepat kilat.

Belasan bahkan mungkin puluhan merek fast fashion ternama lainnya memperbarui koleksinya seminggu sekali. Bisnis berbasis volume seperti ini tidak ramah lingkungan, dan tidak dapat berkelanjutan.

Mulai dari konsumsi energi yang tinggi, penggunaan air yang berlebihan, pembuangan bahan kimia beracun, hingga timbunan limbah, jejak karbon dan lingkungan dari fast fashion sangatlah signifikan.

Sebanyak 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahunnya oleh industri fashion. Yang mengejutkan, sekitar 30% pakaian yang diproduksi setiap musim bahkan tidak pernah terjual.

Baca Juga: Vietjet Raih Penghargaan Best Ultra Low-cost Airline dari Airline Ratings

Pakaian yang tidak terjual ini sering kali dibakar, karena lebih murah dan mudah bagi perusahaan, dibandingkan mencari cara untuk menggunakan ulang (reuse) atau mendaurulangnya (recycle).

Barang preloved

Namun dalam beberapa tahun terakhir, dunia fashion telah mengalami perubahan yang lebih berkelanjutan. Sejumlah merek global ikut serta menawarkan program resale yang inovatif, meluncurkan koleksi yang ramah lingkungan, dan banyak lagi.

Data dari lembaga survei YouGov telah melihat berapa banyak konsumen yang bersedia mempertimbangkan untuk membeli pakaian dan sepatu bekas.

Halaman:

Tags

Terkini