PejuangKantoran.com - Sepertinya lingkungan kerja semakin menganggap sepele waktu istirahat karyawan. Tuntutan pekerjaan hampir selalu memaksa karyawan menyelesaikan tugas bahkan di luar jam kerja, entah itu selepas jam kantor atau saat weekend.
Praktik tersebut dianggap sudah biasa dan bahkan sudah selayaknya dilakukan, sehingga karyawan jadi terbawa bekerja tanpa batas waktu.
Namun survei dari platform rekrutmen Reed belum lama ini mengungkapkan, lebih dari 60% karyawan milenial (berusia 35 hingga 44 tahun) di Inggris akan mempertimbangkan untuk berhenti daripada diminta bekerja di akhir pekan.
Baca Juga: Tarif TransJakarta dan MRT Rp1 Masih Berlaku sampai Minggu 23 Juni 2024
Meskipun sebagian besar responden mengakui bahwa mereka hanya berpikir untuk menyerah jika hal tersebut terjadi secara rutin, seperempat dari mereka akan betul-betul melakukan hal tersebut jika dihubungi di luar jam kerja.
Reed mensurvei sekitar 2.000 karyawan milenial, dan menemukan bahwa satu panggilan di luar jam kerja saja sudah cukup untuk membuat beberapa pekerja berhenti bekerja selamanya.
Kelompok pekerja termuda, berusia 18 hingga 34 tahun, juga mengalami hal yang sama: 59% bersedia pindah ke industri baru untuk memastikan keseimbangan kehidupan kerjanya, dan 22% bersikeras bahwa satu panggilan dari bos saja dianggap sudah terlalu sering.
Sebagai perbandingan, sekitar 40% dari mereka yang berusia di atas 55 tahun akan mempertimbangkan untuk berhenti bekerja di akhir pekan, meskipun hanya melakukan panggilan telepon.
Kemudian 30% hanya melakukannya jika hal tersebut merupakan kejadian biasa, dan 10% akan dipecat dari perusahaan meskipun hal tersebut hanya terjadi sekali saja.
Yang digaji tinggi
Dari survei tersebut juga terlihat, hanya sekelompok kecil karyawan terpilih yang bersedia untuk selalu aktif: mereka yang digaji tinggi, dan mereka yang menghasilkan banyak uang.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Pria yang Selalu Melangkah Maju dan Memegang Kendali atas Hidupnya Sendiri
Mereka yang punya gaji tertinggi di Inggris punya penghasilan lebih dari £100,000 (sekitar Rp2 miliar) dan mereka yang gajinya terendah hanya digaji kurang dari £10,000 (sekitar Rp208 juta) per tahun, adalah kelompok yang paling kecil kemungkinannya untuk berhenti karena sering dihubungi di luar jam kerja normal (28%).
Anna Lundstrom, CEO bisnis Nespresso di Inggris dan Irlandia, mengaku bahwa dia bisa dihubungi oleh karyawannya di berbagai platform kapan saja, mulai dari Teams, email, hingga WhatsApp dan LinkedIn.
Lundstrom selalu meluangkan waktu untuk mengikuti tren, timnya, dan kompetisi.