Pejuangkantoran.com Penggemar sepak bola Indonesia sepertinya sedang marah dengan wasit Ahmed Al Kaf asal Oman. Pasalnya, keputusannya di akhir pertandingan timnas Indonesia melawan Bahrain dianggap merugikan Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2025 ini.
Pertandingan yang berlangsung mulai pukul 23:00 WIB Kamis malam (10/10/2024) ini berakhir seri 2:2. Skor ini membuat timnas Garuda gagal mendapatkan tiga poin.
Diawali dari penambahan waktu di injury time. Berdasarkan papan petunjuk dari ofisial keempat di pinggir lapangan, Qasim Al-Hatmi, waktu tambahan babak kedua adalah enam menit.
Namun, wasit Ahmed Al Kaf tidak meniup peluit panjang tanda laga usai hingga menit ke-90+6.
Timnas Bahrain pun akhirnya menyamakan skor pada menit ke-90+9. Selepas gol tersebut, Ahmed Al Kaf baru menyudahi duel pada menit ke-90+11.
Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, protes dengan kepemimpinan wasit Ahmed Al Kaf. Pria yang kerap disapa dengan inisial STY ini menilai kepemimpinan wasit sangat bias.
Karena itu STY juga sangat memaklumi kemarahan anak asuhnya.
"Jika Anda menyaksikan pertandingan ini, mungkin Anda akan paham mengapa para pemain kami sangat marah. Waktu tambahan adalah enam menit, dan itu nyatanya lebih dari enam menit," kata Shin Tae-yong seperti yang dikutip oleh Bola.com.
Kerap Memberikan Keputusan Kontroversial
Tak pelak, wasit Ahmed Al Kaf pun langsung dibanjiri kritik di berbagai media sosial. Seperti biasa, nara netizen Indonesia mulai mencuit dengan berbagai komentar negatif di media sosial. Bahkan melakukan body shaming dengan dan menjuluki Al Kaf “botak biadab”.
Kekecewaan terhadap Al Kaf diperparah oleh fakta bahwa Oman, negara asal Al Kaf, bertetangga dengan Bahrain. Ini menimbulkan spekulasi tentang netralitasnya.
Selain itu, sejak awal penunjukan Ahmed Al Kaf oleh Federasi Sepak Bola Asia (AFC), sebagai wasit dalam laga ini memang sudah menuai kontroversi. AFC dianggap kurang bijaksana dalam memilih wasit untuk pertandingan sepenting ini.
Belum lagi, reputasi Al Kaf yang sering membuat keputusan kontroversial di laga-laga besar. Ini semakin memperburuk citranya di mata penggemar sepak bola Indonesia.