PejuangKantoran.com - Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, atau yang dikenal sebagai work-life balance, adalah impian setiap pekerja di seluruh dunia.
Tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental, keseimbangan ini juga berkontribusi pada produktivitas dan kepuasan kerja.
Salah satu negara yang sukses menciptakan lingkungan kerja yang mengutamakan work-life balance adalah Denmark. Hal tersebut menjadikannya sebagai tempat terbaik untuk hidup dan bekerja.
Baca Juga: Kekayaan Mayor Teddy Ternyata Mencapai Rp15 Miliar, Apa Saja Sih Harta Bendanya?
Kepercayaan kunci utamanya
Gabriel Hoces, seorang pekerja di perusahaan teknologi di Kopenhagen, menyebut kepercayaan sebagai kunci utama kenyamanan bekerja di Denmark.
Para atasan di negara tersebut tidak menerapkan pengawasan berlebihan atau memaksa karyawan bekerja selama delapan hingga sembilan jam per hari. Fokus mereka hanya memastikan proyek selesai tepat waktu.
Lingkungan kerja yang demokratis dan tanpa hierarki inilah yang membuat Denmark konsisten masuk dalam daftar negara terbaik untuk work-life balance.
Jam kerja tak berlebih dan cuti berbayar
Menurut data OECD, hanya 1,1% pekerja di Denmark yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata global sebesar 10,2%, Inggris 10,8%, dan Amerika Serikat 10,4%.
Baca Juga: BRI Berhasil Salurkan KUR Rp184,98T dengan Tetap Menjaga Kualitas Kreditnya. Ini Strateginya!
Selain itu, Denmark memberlakukan kebijakan cuti tahunan berbayar minimal lima minggu per tahun, di luar hari libur nasional.
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat hanya memberikan 11 hari cuti berbayar untuk pekerjanya.
Denmark juga memberikan keringanan kepada keluarga dengan cuti melahirkan hingga enam bulan, baik untuk ibu maupun ayah.
Kebijakan ini jauh lebih murah hati dibandingkan dengan Inggris dan Amerika Serikat, yang menerapkan aturan cuti orang tua lebih singkat atau bahkan tidak berbayar.