Pejuangkantoran.com – Hingga 2023, Kadin Indonesia, menurut goodstats.id, mencatat kurang lebih 66 juta pelaku UMKM di Indonesia. Dan, UMKM terbukti memberikan kontribusi besar untuk perekonomian Indonesia.
Pada 2023, UMKM menyumbang sebanyak 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau setara dengan Rp9,580 triliun. Selain itu, penyerapan tenaga di sektor ini mencapai angka 97%.
Tak hanya nasional, secara global, kontribusi UMKM atas PDB Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara lain.
Menurut Sri Mulyani pada event BRI Microfinance Outlook 2024, kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia hingga 61%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara ASEAN dan di selected G20.
Oleh karena itu, BRI selalu konsisten dalam melayani dan memberdayakan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) karena berhasil memperkuat ekonomi kerakyatan, namun juga menghasilkan kinerja keuangan yang stabil.
Hingga akhir tahun 2024, BRI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp60,64 triliun di tengah tantangan tekanan ekonomi global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik, serta tantangan likuiditas bagi industri perbankan.
Baca Juga: Balee Scents Membawa Wewangian Aromaterapi Indonesia Melangkah ke Pasar Dunia Bersama BRI
“Pencapaian ini menunjukkan resiliensi kinerja dan kemampuan BRI dalam meng-create value secara konsisten bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, serta masyarakat luas ditengah keberpihakan BRI kepada UMKM”, jelas Direktur Utama BRI Sunarso dalam Press Conference Pemaparan Kinerja Keuangan BRI Tahun 2024 di Jakarta (12/2).
Hingga akhir Desember 2024 total aset BRI mencapai Rp1.992,98 triliun atau tumbuh 1,42% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong penyaluran kredit yang selektif dan berkualitas dengan tetap berfokus pada UMKM.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.354,64 triliun atau tumbuh 6,97% yoy dan seluruh segmen pinjaman tercatat tumbuh positif.
“Penyaluran kredit BRI didominasi oleh segmen UMKM dengan porsi mencapai 81,97% dibandingkan dengan total kredit BRI, atau dengan nominal sebesar Rp1.110,37 triliun”, imbuh Sunarso.
Perbaikan Likuiditas Kredit
Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut juga diikuti dengan perbaikan kualitas kredit. Hal ini ditunjukkan dengan membaiknya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dari semula 2,95% pada akhir Desember 2023 membaik menjadi 2,78% pada akhir Desember 2024. Di samping itu, BRI juga mempersiapkan pencadangan yang mencukupi dengan NPL Coverage sebesar 215,01%.