Pejuangkantoran.com - Saat ini, banyak anak muda, bahkan dari kalangan Gen Z, yang lebih memilih meninggalkan smartphone mereka dan menggunakan ponsel jadul, seperti Nokia.
Berbeda dari anak muda kebanyakan yang tak bisa lepas dari media sosial, mereka justru nyaman hidup jauh dari teknologi. Apa yang sebenarnya terjadi?
Caitlin Begg, sosiolog dan pendiri di Authentic Social, menyebutnya sebagai gaya hidup digital minimalism atau minimalis digital. Ia sendiri merupakan salah satu pelakunya.
Begg menggambarkan minimalis digital sebagai kehidupan yang "fokus pada bagian yang lebih analog dari kehidupan sehari-hari" dan teknologi hanya digunakan bila diperlukan.
Namun, teknologi lama tetap memainkan peran besar di dalamnya. Misalnya, ponsel untuk menelepon dan mengirim SMS, sedangkan untuk mendengarkan musik bisa lewat Walkman.
Cal Newport, ilmuwan komputer dan penulis buku “Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World”, setuju dengan gaya hidup tersebut.
Menurutnya, harus ada solusi selain hanya mematikan notifikasi atau membersihkan diri dari teknologi saat ini.
Baca Juga: Disebut Lebih Suka Kerja Remote, Gen Z Ternyata Ingin Lebih Banyak Interaksi Nyata di Dunia Kerja
Apakah penggunaan “Do Not Disturb” saja tidak cukup?
Jawabannya adalah tidak. Ini karena sifat adiktif media sosial dan smartphone sangat nyata.
"Smartphone memiliki reaksi kimia yang sama di otak seperti obat-obatan dan alkohol," kata Melissa DiMartino, profesor psikologi di New York Institute of Technology.
Ia menjelaskan, mendapatkan like, DM, dan notifikasi dari ponsel akan melepaskan dopamin yang membuat seseorang merasa baik. Perasaan tersebut membuat kamu ingin mengulangi lagi.
Padahal, melihat ponsel untuk merasa lebih baik akan menjadi siklus ketagihan yang membuat kamu merasa tertekan dan kesepian ketika mereka tidak mendapatkannya.
Selain itu, kecemasan dan stres juga bisa meningkat akibat pembaruan yang terus menerus dan konektivitas yang konstan.