PejuangKantoran.com - Departemen HR dan IT tentunya memiliki tugas-tugas yang berbeda. HR mengurus manusia, sedangkan IT mengurus teknologi.
Namun, perkembangan teknologi di era kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah peta ini. Saat ini banyak perusahaan menggabungkan HR dan IT di bawah satu kepemimpinan.
Survei Nexthink menunjukkan, 64% pengambil keputusan senior di bidang IT percaya HR dan IT akan menyatu dalam lima tahun ke depan. Hal itu dipicu oleh kecenderungan di mana AI mengubah cara kerja secara mendasar, sehingga koordinasi keduanya harus lebih erat.
Baca Juga: Jakarta Intercultural School (JIS) Buka Lowongan Kerja Performing Arts Departmental Assistant
Contohnya di Moderna. Di perusahaan bioteknologi yang memiliki lebih dari 5.000 karyawan ini, posisi Chief People and Digital Technology Officer dijabat oleh Tracey Franklin.
"Pada umumnya, departemen HR akan berkata, 'Kita akan melakukan perencanaan tenaga kerja, jadi kita akan menghitung berapa banyak manusia yang kita butuhkan untuk menyelesaikan tugas'.
"Kemudian tim IT akan menerima permintaan untuk sistem yang kita butuhkan," ujar Tracey.
Perempuan ini bertanggung jawab penuh atas HR dan IT, mulai dari perencanaan tenaga kerja hingga sistem digital untuk riset dan produksi obat.
Setelah perusahaan menggabungkan HR dan IT, Tracey melihat perannya lebih seperti arsitek yang menentukan bagaimana pekerjaan dilakukan.
Baca Juga: Investor Newbie Mesti Tahu Beda Reksa Dana dan Saham, Apa Keuntungan dan Risikonya?
“Ini masalah alur kerja mengalir di organisasi, dan apa yang sebaiknya dilakukan dengan teknologi, baik itu perangkat keras, perangkat lunak, atau AI, juga di mana keterampilan manusia bisa melengkapinya,” ujar Tracey.
Tetap bekerja sesuai keahlian
Buat Tracey, pekerjaan ini sekarang bukan lagi cuma mengatur jumlah orang atau sistem, tapi mendesain ulang cara kerja.
Moderna bahkan melatih seluruh karyawannya menggunakan ChatGPT. Tujuannya, agar masing-masing punya kemampuan mengubah cara kerja mereka.