PejuangKantoran.com - Dulu, jenjang karir identik dengan naik level dari posisi yunior, lalu senior, sampai akhirnya duduk di kursi manajer. Namun, tren ini mulai bergeser.
Banyak profesional muda sekarang lebih memilih jalur yang berbeda, yaitu fokus pada pengembangan diri dan keterampilan tanpa harus menjadi atasan.
Salah satu alasannya karena menjadi seorang manajer bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, memberi arahan saat diperlukan, sekaligus menjaga keseimbangan antara tekanan pribadi dan tekanan tim.
Baca Juga: Mengenal Individual Contributor, Peran untuk yang Tidak Ingin Bertanggungjawab Mengelola Tim
Posisi ini juga sering menuntut peran ganda, mulai dari menjadi mentor, teman diskusi, sampai pemberi semangat.
Namun, memiliki kemampuan memimpin tidak selalu berarti ada keinginan untuk duduk di kursi manajer. Tren yang sama juga terjadi di Indonesia.
Hanya 6% Gen Z yang ingin jadi manajer
Banyak generasi muda yang lebih memilih menekuni pengembangan diri dan keterampilan dibandingkan mengejar jalur karir yang berujung pada posisi pimpinan.
Survei global mencatat hanya sekitar 6% Gen Z yang menargetkan jabatan tersebut sebagai tujuan utama, sedangkan sebagian besar lebih menekankan pentingnya kesempatan untuk belajar dan berkembang secara berkelanjutan.
Baca Juga: 7 Keuntungan Menjadi Individual Contributor daripada Menjadi Manajer yang Mengelola Anak Buah
Gen Z di Indonesia juga sangat menekankan pentingnya kesempatan untuk berkembang secara nyata, baik melalui pelatihan di tempat kerja, arahan dari senior, maupun membangun jejaring profesional.
Jalur pengembangan individu ini dipandang lebih sejalan dengan harapan mereka karena memberi ruang untuk bertumbuh tanpa harus memikul tanggung jawab sebagai atasan.
Muncul fenomena “conscious unbossing”