Baca Juga: Cara Menghindari Window-sitting Agar Tak Membuat Karir Mandeg dan Semangat Kerja Turun
“Dengan coretax nanti, kepatuhan meningkat. Dari sisi pembayaran, kewajiban, sampai transparansi data wajib pajak akan lebih jelas,” kata Anggito.
Saat ini, coretax baru digunakan untuk layanan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sejak 1 Januari 2025.
Namun mulai tahun depan, sistem ini juga akan dipakai untuk Pajak Penghasilan (PPh), baik PPh orang pribadi maupun badan.
“Kalau PPh memang lebih kompleks, tapi sekarang sistem PPN sudah berjalan cukup baik. Masalah faktur, data, hingga traffic sudah oke. Tahun depan, kita harap PPh juga bisa lancar,” tambah Anggito.
Harapan dan kritik publik
Kehadiran coretax diharapkan membuat layanan makin cepat, mudah, dan terintegrasi. Namun, di balik harapan besar itu, coretax juga menuai kritik.
Dengan anggaran yang besar untuk pembangunannya, sebagian masyarakat merasa manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan.
Video Purbaya yang menelpon Kring Pajak pun ramai mendapat komentar warganet.
Seorang pengguna TikTok, @once***, menuliskan, “30 tahun gua hidup, baru kali ini gua melihat pejabat kinerjanya langsung diketahui publik. Dan gua orang awam jadi lebih mudah mengerti apa yang beliau jelaskan.”
Sementara pengguna lain, @dam***, menyampaikan keluhan soal sistem coretax, “Coretax banyak masalahnya, benerin pak menteri.”
Pemerintah sendiri masih terus mengembangkan coretax agar benar-benar bisa menjadi tulang punggung sistem perpajakan modern di Indonesia.
Jika berjalan mulus, sistem ini diharapkan bukan hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga membuat wajib pajak lebih nyaman dalam melaksanakan kewajibannya.