PejuangKantoran.com - Pernah dengar nggak, bahwa semakin tua lingkar pertemanan kita semakin mengecil? Teman-teman kita pindah ke kota lain, sudah nggak nyambung karena lingkup pergaulannya, atau karena sudah berpulang.
Sedihnya, kita pun susah menambah teman-teman baru. Hal ini ternyata juga biasa dialami oleh orang lain. Terbukti, survei terbaru dari Bumble menunjukkan, lebih dari separuh orang dewasa tidak mendapatkan satu teman baru pun sepanjang tahun lalu.
Angka ini terasa relevan karena mencerminkan perubahan dalam cara hidup orang dewasa saat ini.
Baca Juga: Film 'Kuyank' Digarap Seotentik Mungkin dengan Kalimantan, dari Musik, Cerita, hingga Bahasanya
Masalahnya bukan karena orang-orang enggan bersosialisasi. Yang berubah adalah kondisi yang dulu membuat pertemanan terbentuk secara alami.
Dulu, kita mungkin punya rutinitas bareng: berangkat ke kantor yang sama setiap hari, nongkrong di tempat yang sama, atau mengikuti kegiatan rutin.
Sekarang, jadwal kita dan teman-teman semakin terpecah, waktu terasa sempit, dan komunikasi lebih banyak melalui Whatsapp. Akibatnya, peluang untuk bertemu orang-orang baru jadi terbatas.
Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang yang punya pekerjaan, keluarga, dan agenda yang selalu padat. Ia tidak kesepian dalam arti harfiah karena selalu dikelilingi orang.
Namun, dari mana sebenarnya pertemanan baru itu seharusnya datang? Banyak orang yang rajin menghadiri acara-acara yang membuatnya bertemu banyak orang, tapi tetap sulit membangun hubungan yang benar-benar dekat.
Data mendukung rasa kesepian ini. Dalam tiga dekade terakhir, jumlah orang dewasa di Amerika yang mengaku tidak punya teman dekat meningkat empat kali lipat.
Di Eropa, survei Bumble tahun 2025 menunjukkan 52% orang dewasa tidak mendapat teman baru dalam setahun terakhir, padahal 60% di antaranya ingin punya. Artinya, ada jurang antara keinginan dan kenyataan.
Kondisi ini semakin terasa bagi generasi milenial dan Gen Z yang tumbuh di masa pandemi, lalu masuk ke dunia kerja dengan sistem kerja jarak jauh.
"Berteman saat dewasa memang secara fundamental lebih sulit dibandingkan saat kecil," ujar Steven Buchwald, pakar kesehatan mental dari Manhattan Mental Health.