news

Gara-gara Penerjemah Salah Mengartikan Bahasa Isyarat, Pasien Tuli Salah Menerima Vaksin

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:36 WIB
Ilustrasi: Seorang pasien tuli salah menerima vaksin karena petugas klinik tidak menguasai bahasa isyarat. (Magnific)

PejuangKantoran.com - Menjadi nakes itu nggak mudah. Kita harus siap dengan segala situasi darurat, yang mungkin di luar keterampilan yang kita pelajari. 

Hal ini terjadi pada Samantha, seorang wanita tuli di Inggris. Dia terpaksa menerima vaksin yang salah gara-gara klinik tempatnya berobat tidak menyediakan penerjemah Bahasa Isyarat Britania (British Sign Language/BSL).

Niat awal Samantha sebenarnya cuma ingin suntik vaksin flu. Dia bahkan sudah menunjukkan catatan di ponselnya kepada perawat yang bertuliskan "hanya untuk vaksin flu".

Baca Juga: Pekerja Lapangan Paling Rentan Terpapar Kabut Asap Kebakaran Hutan, Bisakah Mereka WFH?

Namun, petugas justru menyuntikkan vaksin Covid-19. Petugas juga gagal memperlihatkan video BSL yang seharusnya bisa mencegah kekeliruan tersebut.

Pihak klinik mengklaim mereka sudah mendapat persetujuan untuk menyuntikkan vaksin tersebut dari nenek Samantha. Padahal, sang nenek menderita demensia tahap awal dan bahkan tidak berada di dalam ruang perawatan. Duh, ini plot twist banget sih!

Akibat peristiwa tersebut, lembaga ombudsman PHSO (Parliamentary and Health Service Ombudsman) memerintahkan pihak klinik meminta maaf dan membayar ganti rugi sebesar £450 (sekitar Rp9 juta) kepada Samantha.

Masalah komunikasi yang masih sering terjadi

Ternyata, kasus seperti Samantha ini bukan pertama kali ini terjadi. Sebelumnya, ada kasus serupa yang terjadi pada Alan Graham, pasien gagal jantung yang juga tuli.

Ketika penerjemah resmi tidak ada, petugas rumah sakit malah meminta cucu remajanya untuk menerjemahkan kabar duka kepada keluarganya bahwa Alan kemungkinan akan meninggal.

Baca Juga: 30 Kota Paling Populer buat Digital Nomad, Canggu Bali Masih Jadi Favorit dari Indonesia

Kelalaian seperti ini jelas mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga kesehatan.

"Ketika orang-orang merasa tidak didengarkan dan kebutuhan mereka tidak terpenuhi, mereka akan kehilangan rasa percaya pada layanan yang justru dirancang untuk membantu mereka," ungkap Direktur Eksekutif PHSO, Rebecca Hilsenrath.

Menanggapi kasus Samantha, pihak NHS England menegaskan bahwa hambatan komunikasi bagi pasien disabilitas adalah hal yang sama sekali tidak bisa diterima.

"Kami tidak menjalankan tugas dengan benar. Kami tetap berkomitmen untuk belajar dari kejadian ini dan memberikan perawatan yang inklusif serta penuh rasa empati bagi seluruh pasien kami," ujar perwakilan rumah sakit.

Halaman:

Tags

Terkini