PejuangKantoran.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali menjadi persoalan regional setelah asap dari Kalimantan Barat terpantau menyebar hingga Sarawak, Malaysia. Jika kondisi ini memburuk, dampaknya tidak berhenti pada kualitas udara, tetapi dapat merembet ke pariwisata, penerbangan, logistik, perkebunan, perdagangan lintas batas, hingga hubungan bisnis Indonesia-Malaysia.
Fenomena ini menjadi semakin penting karena hubungan ekonomi kedua wilayah Borneo sebenarnya sedang diperkuat. Pemerintah Sarawak dan Indonesia pada Juli 2026 membahas peningkatan konektivitas transportasi, termasuk penerbangan serta konektivitas darat di berbagai pos perbatasan untuk mendukung pariwisata, perdagangan dan investasi.
Di saat konektivitas tersebut sedang tumbuh, kabut asap lintas batas dapat menjadi gangguan yang datang dari luar neraca perusahaan: tidak selalu menghentikan bisnis secara langsung, tetapi meningkatkan biaya, ketidakpastian dan risiko operasional.
Baca Juga: Kabut Asap Dari Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya. Gunakan Masker yang Tepat Seperti Berikut Ini!
Baca Juga: Pekerja Lapangan Paling Rentan Terpapar Kabut Asap Kebakaran Hutan, Bisakah Mereka WFH?
Pariwisata Bisa Menjadi Korban Pertama
Bagi wisatawan, kualitas udara merupakan bagian dari pengalaman perjalanan. Ketika kabut asap membuat jarak pandang menurun dan kualitas udara memburuk, wisatawan berpotensi menunda perjalanan ke wilayah terdampak.
Efeknya dapat dirasakan hotel, restoran, pusat perbelanjaan, operator tur hingga pelaku UMKM yang bergantung pada mobilitas wisatawan.
Risikonya menjadi semakin relevan karena konektivitas Indonesia-Malaysia sedang berkembang. Penerbangan langsung Pontianak-Kuching yang kembali beroperasi sejak September 2025 disebut sebagai penggerak baru perdagangan, pariwisata dan mobilitas masyarakat kedua wilayah.
Artinya, semakin tinggi mobilitas lintas batas, semakin besar pula potensi dampak ekonomi ketika mobilitas tersebut terganggu.
Penerbangan dan Logistik Menghadapi Risiko Operasional
Kabut asap tebal dapat mengurangi jarak pandang dan berpotensi mengganggu operasional penerbangan. Dalam kondisi tertentu, maskapai dapat menghadapi penundaan, perubahan jadwal atau pengalihan penerbangan.
Bagi pekerja, dampaknya bukan hanya soal terlambat sampai kantor. Penerbangan yang terganggu dapat memengaruhi perjalanan bisnis, kunjungan tenaga ahli, distribusi barang bernilai tinggi, hingga jadwal pertemuan perusahaan.