Sementara bagi perusahaan logistik, ketidakpastian waktu pengiriman berarti tambahan biaya. Barang yang seharusnya tiba dalam jadwal tertentu bisa mengalami keterlambatan jika jalur transportasi darat, laut maupun udara terdampak kondisi asap.
Perdagangan Kalimantan-Sarawak Bisa Ikut Melambat
Kalimantan Barat dan Sarawak memiliki hubungan ekonomi yang sangat bergantung pada pergerakan manusia dan barang melalui perbatasan. Kajian Universitas Padjadjaran pada 2026 menyebut kawasan perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak sebagai koridor ekonomi strategis yang memfasilitasi perdagangan produk lokal melalui pos lintas batas.
Jika kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan dapat ikut melambat. Pedagang, pekerja lintas batas, pengemudi logistik dan konsumen yang biasanya bergerak antara kedua wilayah bisa mengurangi perjalanan.
Masalahnya, bisnis perbatasan sangat bergantung pada volume transaksi. Penurunan mobilitas selama beberapa hari mungkin terlihat kecil secara nasional, tetapi bagi pedagang dan usaha kecil yang mengandalkan pelanggan lintas batas, dampaknya bisa terasa langsung.
Perkebunan Menghadapi Risiko Ganda
Sektor perkebunan juga berada dalam posisi rumit. Di satu sisi, kebakaran dapat mengganggu produksi dan aktivitas pekerja di wilayah perkebunan. Di sisi lain, perusahaan dapat menghadapi tekanan reputasi jika asap kembali dikaitkan dengan pembukaan atau pengelolaan lahan yang buruk.
Risiko tersebut semakin sensitif karena komoditas seperti kelapa sawit memiliki rantai pasok lintas negara. Gangguan produksi, distribusi atau persepsi negatif terhadap komoditas dapat meningkatkan biaya dan memengaruhi hubungan dengan pembeli.
Karena itu, perusahaan perkebunan bukan hanya perlu memadamkan api, tetapi juga memperkuat sistem pencegahan, pemantauan titik panas, pengelolaan lahan dan transparansi rantai pasok.
Pekerja Juga Menanggung Biayanya
Kabut asap pada akhirnya memiliki dimensi tenaga kerja. Pekerja di sektor konstruksi, perkebunan, transportasi, perdagangan, pariwisata dan pekerjaan lapangan menjadi kelompok yang paling mungkin merasakan dampaknya secara langsung.
Ketika kualitas udara memburuk, perusahaan mungkin perlu menyesuaikan jam kerja, mengurangi aktivitas luar ruangan atau menyediakan perlindungan tambahan bagi pekerja. Semua itu berpotensi menambah biaya operasional.
Di sektor jasa, masalahnya bisa berbeda: berkurangnya pelanggan berarti berkurangnya jam kerja atau pendapatan pekerja yang bergantung pada aktivitas harian.
Hubungan Bisnis Indonesia-Malaysia Ikut Diuji
Persoalan kabut asap juga memiliki dimensi diplomatik. Ketika asap melewati batas negara, persoalannya tidak lagi hanya menjadi urusan domestik Indonesia.