PejuangKantoran.com - Sepertinya warga Singapura cukup beruntung. Tidak hanya Coldplay yang akan menggelar konser selama enam hari di sana, tetapi juga Taylor Swift.
Hal ini tentu saja disambut gembira oleh penggemar penyanyi asal Amerika itu. Masalahnya, tidak semua hari berlangsungnya konser Taylor Swift merupakan hari libur.
Baca Juga: Jadwal Piala Dunia U-17 Bersamaan dengan Konser Coldplay di Indonesia, Siapa yang Mengalah?
Konser Taylor Swift "The Eras Tour" akan diselenggarakan pada 2, 3, 4, 7, 8, dan 9 Maret 2024 di Singapore National Stadium. Di antara tanggal tersebut, 7 dan 8 Maret 2024 jatuh di Kamis dan Jumat, yang masih menjadi hari sekolah.
Beberapa penggemar pelantun Anti-Hero ini kemudian meminta Menteri Pendidikan Singapura Chan Chun Sing untuk menjadikan tanggal tersebut sebagai hari libur sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Chan menulis di akun Facebook bahwa ia sudah mendengar permintaan para penggemar Taylor Swift itu.
"Bagaimana kalau begini? Jika ada penggemar yang kreatif dan berani berusaha giat dapat mengundang Taylor (atau artis A-list lainnya agak adil) ke sekolah kamu untuk tampil gratis, kami dapat membuat sekolahmu libur?! Jadi, semua orang dapat menikmati konser inklusif ini!” tulisnya.
Tak hanya itu, Chan juga bilang jika ia memberikan hari libur untuk penonton konser Taylor Swift, hal itu akan dianggap kurang adil di mata penggemar artis lainnya.
"Tapi saya khawatir bagaimana perasaan penggemar Coldplay, Blackpink, BTS, Beyoncé, dan lainnya juga," katanya.
Khawatir juga dengan kemungkinan inflasi
Chan tidak hanya khawatir dengan ketidakadilan jika memberikan hari libur sekolah hanya untuk konser Taylor Swift, tetapi ia juga prihatin dan khawatir dengan banyaknya konser yang memicu inflasi di negara tempat berlangsungnya konser.
Baca Juga: Coldplay Pecahkan Rekor Penjualan Tiket Terbanyak dalam Satu Hari di Singapura
Di Swedia, beberapa ekonom menyalahkan superstar Beyonce atas inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada Mei 2023.
Saat itu, puluhan ribu penggemar pelantun Cuff It itu memang berbondong-bondong ke Stockholm untuk menyaksikan dua konser sang penyanyi. Maklum saja, ini merupakan kali pertama Beyonce memulai world tour dalam tujuh tahun.
Menurut Michael Grahn, kepala ekonom Swedia di Danske Bank, kunjungan Beyonce ke Stockholm dapat menjelaskan kenaikan yang tidak terduga.
"Awal tur dunia Beyonce di Swedia tampaknya telah mewarnai inflasi Mei, berapa banyak (inflasinya) tidak pasti," ujarnya.