PejuangKantoran.com - Belakangan ini beredar video yang memperlihatkan Daniel Mananta bercerita kepada Prof. Quraish Shihab mengenai adanya neutral gender toilet atau toilet gender netral di salah satu sekolah internasional di Jakarta.
“Kemarin pas saya lagi ke sekolahan tersebut, saya datang ke resepsionisnya, di situ sudah ada WC untuk laki-laki, perempuan, sama gender neutral,” kata Daniel Mananta.
Nah, ia kemudian mempertanyakan mengenai hal tersebut kepada Prof. Quraish mengenai adanya toilet gender netral di sekolah, khususnya sekolah dasar (SD) seperti yang didatanginya.
Saat video tersebut tersebar, orang-orang mulai ramai membicarakannya. Ada yang tidak setuju seperti Daniel Mananta dengan keberadaan toilet seperti itu di SD, tetapi tidak sedikit juga yang mencibir.
Kesalahpahaman mengenai toilet gender netral
Banyak dari orang-orang yang berpendapat negatif mengenai video Daniel tersebut yang menyebut bahwa toilet gender netral sudah ada lama di Indonesia. Jadi, seharusnya tidak perlu dipermasalahkan.
Namun, sepertinya di sinilah terjadinya kesalahpahaman. Bahkan, tidak sedikit yang mencontohkan neutral gender toilet sama seperti toilet yang ada di pom bensin atau tempat umum yang tidak memisahkan antara toilet laki-laki dan perempuan.
Namun, toilet gender netral bukan seperti itu. Seperti namanya, toilet ini memang boleh dimasuki oleh semua jenis gender. Tidak hanya laki-laki atau perempuan, tetapi juga perempuan, nonbinary, cis, dan sebagainya.
Di beberapa negara maju, seperti Amerika dan Kanada, sudah banyak tersedia toilet seperti ini.
Toilet yang dimaksud juga bukan hanya sekadar bilik kamar kecil, tetapi ruangan yang berisi banyak bilik dan wastafel. Jadi, tentu saja berbeda dengan yang disebutkan oleh banyak orang bahwa toilet gender netral seperti yang ada di SPBU.
Bahaya toilet gender netral jika belum dipahami dengan baik
Bagi Daniel, adanya toilet seperti ini di lingkungan sekolah, apalagi di SD, agak meresahkan. Toilet ini seakan mengajarkan anak-anak bahwa gender bukan hanya laki-laki dan perempuan, tetapi lebih banyak jenisnya.
Baca Juga: Rawon Jadi Sup Terenak di Dunia versi TasteAtlas, Kalahkan Tonkotsu Ramen dari Jepang
Ini memang benar. Namun, rasanya kurang etis jika hal ini “diajarkan” kepada anak sejak dini. Hal sensitif seperti ini seharusnya diberitahukan setelah anak cukup dewasa, baik dari segi usia mau pun pola pikirnya.