PejuangKantoran.com - Selama bertahun-tahun, kita melihat ada suatu kekhawatiran saat mencapai usia tertentu. Usia 21, 25 dan usia milestone, 30, lebih banyak dihadapi dengan kecemasan daripada kebahagiaan. Sekarang, generasi milenial khawatir ketika memasuki usia 30.
Sebuah survei tahun 2022 dari badan amal Relate di Inggris menemukan bahwa 77% milenial (lahir tahun 1981 – 1996, atau berusia 25-39 tahun), dan 83% Gen Z (lahir tahun 1997 – 2012, atau berusia 16-24 tahun) merasakan tekanan saat mencapai kehidupan atau usia milestone. Mengapa generasi milenial khawatir saat memasuki usia 30?
Baca Juga: Milenial, Gen Z, dan Gen X Punya Persiapan Beda Saat Liburan: Ada yang Pilih Uang, Ada yang Camilan
Banyak profesional muda menemukan, paruh kedua dari usia akhir dua puluhan diganggu dengan rasa takut memasuki dekade ketiga mereka. Entah mengapa, usia milestone seperti 30 rasanya menakutkan sekali. Hal ini terutama dirasakan oleh generasi milenial, yang khawatir memasuki usia 30.
Dari mana sih, datangnya perasaan ini? Mengapa perasaan itu menguat ketika kita mendekati usia 30? Apakah hanya karena kita merasa semakin tua, padahal belum melakukan cukup banyak hal dalam hidup kita?
Sebagian besar orang, terutama kaum perempuan, merasakan tekanan sosial untuk settle down, kata psikoterapis klinis Dr. Jo Gee. Ya, mulai hidup teratur, menikah, dan punya anak. Usia 30 terasa seperti usia yang menentukan, karena ambang pencapaian seringkali diharapkan sudah tercapai.
“Hal ini sejalan dengan perubahan biologis pada kaum perempuan, yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan, sehingga menciptakan rasa urgensi pada perempuan yang mencapai usia 30,” kata dokter spesialis manajemen kecemasan dan stres ini.
Ulang tahun ke-30 juga bisa mengubah cara kita berpikir dan berperilaku akibat norma budaya yang tertanam kuat seputar usia, tambah psikoterapis Hilda Burke. Ulang tahun ke-30 menjadi penting karena kita secara kolektif memberinya makna dan pencapaian tertentu.
Baca Juga: Kasihan Amat, 2 dari 3 Milenial Tidak Mendapat Manfaat Break Makan Siang
“Bagus sih, kalau kita memeriksa diri kita sendiri, dan bertanya apakah kita sudah di jalan yang benar. Tetapi seringkali orang mengalami krisis usia pra-30 karena mereka mengukur diri mereka berdasarkan apa yang mereka anggap sebagai 'norma',” jelas Burke.
Melihat teman-teman menemukan pencapaian tertentu setiap hari bisa membuat kita terus membanding-bandingkan diri. Ketika kita mencari lowongan pekerjaan di LinkedIn, nggak jarang kita malah kepoin profil orang-orang yang kita anggap penting di LinkedIn. Tidak lupa, sambil menghitung usia mereka melalui tahun kelulusan mereka.
Yang perlu kamu ketahui, kata Dr. Gee, meskipun generasi milenial begitu khawatir memasuki usia 30, bukankah di usia ini justru penuh dengan peluang yang menarik?