news

Survei: 73% Orang Mengaku Tak Suka Merayakan Hari Valentine, dan Alasannya Bukan Karena Jomblo!

Sabtu, 11 Februari 2023 | 21:23 WIB
Ilustrasi: Makin banyak orang yang tidak ingin merayakan Hari Valentine (Freepik)

PejuangKantoran.com - Hari Valentine tinggal tiga hari lagi, tetapi ternyata tidak semua orang menunggu-nunggu datangnya 14 Februari. Sebagian orang merasa tidak mendapat vibe-nya, sisanya -yang jomblo- mendapat tekanan yang tidak perlu dari segala penjuru.

Ketidakpuasan yang dilontarkan tahun ini tampaknya mencapai puncaknya ketika media sosial dibanjiri seruan agar perayaan Hari Valentine dihapuskan untuk selamanya.

Hal ini bermula dari jajak pendapat yang dilakukan oleh DailyMail.com, untuk mengumpulkan opini yang lebih luas tentang Hari Valentine. Hasilnya, 73% pembaca mengatakan bahwa mereka membenci liburan romantis.

Baca Juga: 5 Pasangan Orangtua dan Anak Artis Yang Tampil Satu Frame dalam Film

Jelas terlihat mengapa 14 Februari sangat tidak populer di kalangan mereka. Banyak yang menganggap hari itu hanya menjadi "hari libur komersial", karena harga barang-barang naik karena menyambut Hari Valentine.

Survei oleh National Retail Federation melaporkan, tahun lalu konsumen AS membelanjakan total 23,9 miliar dollar untuk membeli hadiah untuk perayaan Hari Valentine. Permen, kartu ucapan, dan bunga menempati urutan teratas dalam daftar kategori hadiah terpopuler di AS.

Pengeluaran rata-rata per orang adalah 175,41 dollar, di mana pria umumnya akan menghabiskan lebih banyak uang yaitu sebesar 229,54 dollar. Sementara itu, wanita berencana membelanjakan 97,77 dollar.

Pengeluaran ini diperkirakan akan meningkat lebih tinggi lagi pada tahun 2023. Namun, kali ini kenaikan harga cenderung disebabkan oleh inflasi, ditambah markup dari toko-toko yang mencoba memanfaatkan kesempatan itu.

Tetapi bagi banyak orang, tekanan untuk membeli sesuatu untuk orang terdekat mereka masih ada, seperti untuk pasangan, anak-anak, orangtua, teman-teman, dan rekan kerja.

Ada harapan yang tinggi di sekitar Hari Valentine untuk pasangan, mulai tuntutan hadiah yang sempurna, makan malam yang paling mewah, hingga gagasan tentang cinta abadi.

Baca Juga: 11 Februari: Hari Orang Sakit Sedunia, Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Memperingatinya?

Menurut Jonathon Fader, PhD, penulis di situs Psychology Today, harapan yang tinggi lebih cenderung membuat kita kecewa, terutama jika harapan itu hanya untuk satu hari.

Memikirkan Hari Valentine sebagai hari istimewa untuk menunjukkan cinta juga bisa menghilangkan praktik cinta dan penghargaan sehari-hari, menurut Fader.

Semua tekanan pada hubungan selama Hari Valentine sebenarnya bisa merusak hubungan, yang ujung-uungnya bisa membuat putusnya hubungan.

Sebuah studi yang melacak status perpisahan di Facebook menemukan bahwa pasangan cenderung lebih sering putus setelah Hari Valentine!

Halaman:

Tags

Terkini