PejuangKantoran.com - Pengalaman berakting di film horor bukan hal yang baru bagi Taskya Namya. Namun, baru saat bekerja di lokasi syuting film Waktu Maghrib ia benar-benar merasakan vibe horor-nya.
Berlokasi di Yogyakarta, aktris 29 tahun ini merasa kota ini benar-benar masih kuat aura mistisnya. Bagaimana tidak, ia sering sekali mengalami atau menjadi saksi peristiwa aneh selama syuting. Kejadian mistis itu pun tidak hanya terjadi sekali saja, tetapi berkali-kali.
“Karena gak cuma 1 kejadian. Aku inget banget pas take adegan di sekolah, mas Tata (sutradara Sidartha Tata) tiba-tiba memanggil aku dan meminta aku melihat ke monitor. ‘Ky, elo kan sering syuting film horor. Ini kejadian-kejadian seperti ini emang sering?’ Aku jawab, ‘Nggak sih, mas, baru di sini saja!’” kenang aktris yang juga dikenal sebagai kekasih aktor Ari Irham ini.
Baca Juga: Mengapa Banyak Perusahaan Teknologi Teratas Memiliki CEO India?
Yang membuatnya juga bingung adalah setiap kali ada kejadian mistis seperti orang kesurupan, ia selalu berada di lokasi syuting.
Melihat langsung orang kesurupan, tak pungkiri, membuatnya deg-degan. Salah satu kejadian yang paling tidak terlupakan adalah ketika awalnya ia hanya ingin melihat Aulia Sarah berakting, tetapi yang terjadi ia justru bisa mendektesi kehadiran mahluk mistik itu lebih awal.
“Aku datang ke set untuk melihat Aul lagi syuting. Sementara, Aul lagi take di dalam, aku memantau melalui monitor di luar ruangan. Tiba-tiba aku mendengar ada suara mengerang yang menyeramkan. Aku langsung merinding. Nengok ke belakang, koq kayaknya tidak ada yang mendengar. Aku sempat heran, koq suaranya terdengar seperti di kuping kiri tapi monitor ada di kanan. Ah, ya sudahlah. Santai saja. Lalu, aku dengar cara Pak Heru (Aktor Heru Prasetyo) menakuti ternyata menggunakan suara erangan seperti yang saya dengar sebelumnya dan, tidak lama, tiba-tiba ada yang gubrak-gubrak. Nah, ada yang kesurupan tuh!”
Walau bekerja dalam setting-nya yang mencekam, Taskya bersyukur seluruh kru tetap bersemangat, terus memberi enerji penuh.
Setelah melewati mendaki gunung, melewati lembah, menghadapi keseraman-keseraman itu, kita semua tetap ketawa-ketawa, malah main tebak-tebakan. Kalau dijalanin bersama jadi tidak seseram apa yang kita pikirin, walaupun lokasinya memang benaran serem. Aku happy banget karena kalau lagi rame-rame, kebanyakan isinya ngebanyol melulu!”
(Syanne Susita)