Impulse Buying, Perilaku Konsumtif Yang Bisa Bermanfaat Namun Juga Bisa Mudarat. Ini Penjelasannya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 19 April 2025 | 14:30 WIB
Impulse buying sering terjadi di depan kasir. (Freepik)
Impulse buying sering terjadi di depan kasir. (Freepik)
  1. Emosi

Orang cenderung membeli secara impulsif saat sedang senang, stres, bosan, atau sedih.

Contoh: Belanja saat galau untuk "self-reward".

  1. Lingkungan Belanja

Tata letak toko, musik, pencahayaan, dan aroma bisa memicu belanja impulsif.

Contoh: Musik lembut di toko membuat orang lebih rileks dan lama berbelanja.

  1. Promosi dan Diskon

Kata-kata seperti "Flash Sale", "Beli 1 Gratis 1", atau "Hari Ini Saja!" memicu rasa takut ketinggalan (FOMO – Fear of Missing Out).

  1. Media Sosial dan Influencer

Melihat produk dipakai atau direkomendasikan oleh orang lain, apalagi selebgram, bisa menggoda untuk langsung beli.

  1. Kepribadian Konsumen

Orang dengan self-control rendah atau sifat impulsif tinggi lebih mudah tergoda. Orang dengan gaya hidup konsumtif atau materialistis juga lebih rentan melakukan impulse buying.

  1. Kemudahan Transaksi

Fitur seperti one-click buy, COD, atau e-wallet bikin pembelian terasa ringan dan cepat dilakukan.

Baca Juga: Hemat Mana, Belanja Keperluan Rumah Tangga Mingguan Atau Bulanan? Simak Perbandingannya!

Pro dan Kontra

Melihat berbagai alasan tersebut, ada manfaat dan mudarat terkait dengan perilaku ini.

Manfaat (Kelebihan) Impulse Buying

  1. Meningkatkan Mood / Emosional Relief
    Kadang, membeli sesuatu secara spontan bisa membuat hati senang atau mengurangi stres. Ini dikenal sebagai retail therapy.
  2. Menemukan Produk Baru
    Impulse buying kadang membuka pengalaman baru. Misal, mencoba makanan baru, membeli produk lokal, atau barang yang tidak terpikirkan sebelumnya tapi ternyata berguna.
  3. Memanfaatkan Kesempatan (Deal bagus)
    Kalau impulsifnya terjadi saat ada diskon besar dan barangnya memang potensial bermanfaat, itu bisa jadi keputusan yang ekonomis.
  4. Membuat Belanja Lebih Seru
    Bagi sebagian orang, impulse buying menjadikan pengalaman belanja lebih menyenangkan dan spontan, tidak selalu kaku dan serba terencana.

Mudarat (Kekurangan) Impulse Buying

  1. Menguras Keuangan
    Pembelian spontan bisa boros, apalagi kalau sering dilakukan dan tanpa kontrol. Ujung-ujungnya bisa mengganggu rencana keuangan. Parahnya lagi ketika impulse buying ini dilakukan dengan cara berhutang.
  2. Penyesalan Setelah Membeli (Buyer's Remorse)
    Banyak orang merasa menyesal setelah membeli barang yang ternyata tak dipakai, tak dibutuhkan, atau kualitasnya kurang bagus.
  3. Menumpuk Barang yang Tidak Diperlukan
    Hasil impulse buying sering kali berujung pada rumah penuh barang tidak terpakai, baju, makeup, gadget, dan sebagainya.
  4. Membentuk Kebiasaan Konsumtif
    Kalau tidak dikendalikan, impulse buying bisa jadi kebiasaan dan bahkan pelarian dari masalah (misalnya stres, bosan, atau kesepian).

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X