Impulse Buying, Perilaku Konsumtif Yang Bisa Bermanfaat Namun Juga Bisa Mudarat. Ini Penjelasannya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 19 April 2025 | 14:30 WIB
Impulse buying sering terjadi di depan kasir. (Freepik)
Impulse buying sering terjadi di depan kasir. (Freepik)

Pejuangkantoran.com – Pernahkah kamu mengalami kejadian seperti ini: sedang menunggu antrean membayar di kasir, tiba-tiba matamu tertumbuk pada produk yang di-display di rak dekat kasir, dan tak lama produk tersebut sudah masuk di keranjangmu.

Padahal produk tersebut tidak ada dalam daftar belanjamu hari itu, kamu tidak berencana membelinya, dan bahkan sebenarnya kamu tidak membutuhkan barang tersebut.

Inilah yang disebut impulse buying. Menurut definisinya, impulse buying (ada juga yang menyebutnya denhan impulse purchase) adalah pembelian spontan atau yang tidak direncanakan.

Karena spontan dan tidak direncanakan, maka umumnya produk yang dibeli tidak terlalu kamu butuhkan saat itu.

Ada banyak alasan yang membuat seseorang tiba-tiba memutuskan untuk melakukan impulse buying. Mulai dari kondisi emosional, taktik periklanan yang efektif, faktor budaya, keinginan untuk mendapatkan perasaan kepuasan instan, dan lain sebagainya.

Impulse buying dipicu oleh kombinasi faktor psikologis, emosional, lingkungan, dan sosial. Banyak riset telah mengkaji hal ini, terutama di bidang psikologi konsumen dan pemasaran.

 Baca Juga: Hobi Belanja Dan Keuanganmu Tetap Aman? Jadilah Smart Shopper dan Ikuti Caranya Berikut Ini

Faktor yang Memicu Impulse Buying

Seperti sudah disampaikan di atas, ada sejumlah faktor yang memicu impulse buying. Ada sejumlah penelitian yang pernah dilakukan terkait perilaku impulse buying ini. Seperti peneltian Rook dan Fisher tahun 1995.

Penelitian ini menyatakan bahwa impulse buying adalah hasil interaksi antara sifat impulsif seseorang dan lingkungan toko. Semakin tinggi dorongan impulsif seseorang, semakin besar kemungkinan dia melakukan pembelian impulsif.

Lalu Verplanken dan Herabadi yang pada tahun 2001 menulis laporan berjudul Impulse Buying Tendency Scale. Laporan ini  mengukur kecenderungan seseorang terhadap impulse buying.

Mereka temukan bahwa emosi negatif dan impulsivitas tinggi berkorelasi dengan perilaku belanja impulsif.

Berikut ini, penjelasan singkat, faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan impulse buying, yaitu:

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X