PejuangKantoran.com - Di antara generasi-generasi sebelumnya, Milenial dan Gen Z cenderung suka menghambur-hamburkan uang untuk kebutuhan tersier, seperti pakaian keluaran desainer dan travelling.
Padahal, kebutuhan primer mereka belum tentu sudah tercukupi dengan baik.
Dalam sebuah tren di media sosial, ini disebut sebagai “doom spending”. Mengapa disebut seperti itu?
Baca Juga: Ternyata Tak Perlu 10.000 Langkah Per Hari Untuk Sehat. Ini Rekomendasi Jumlah Langkahnya!
Menurut Psychology Today, ini karena doom spending terjadi ketika seseorang cenderung belanja impulsif untuk menenangkan diri karena merasa pesimis dengan ekonomi dan masa depannya.
Menurut Ylva Baeckström, mantan bankir dan dosen senior di bidang keuangan di King's Business School, London, apa yang dilakukan oleh kebanyakan Milenial dan Gen Z ini tidak sehat dan fatalistik.
Fatalistik adalah keyakinan bahwa semua kejadian itu tidak dapat dihindari sehingga pilihan dan tindakannya tidak akan berpengaruh. Inilah yang membuat doom spending semakin berbahaya.
Mengapa “Doom Spending” Bisa Terjadi?
Masih menurut penjelasan Ylva, doom spending terjadi karena anak muda terlalu banyak menghabiskan hidupnya secara online dan merasa terus-menerus menerima “berita buruk”.
Hal ini membuat mereka merasa seperti mengalami musibah besar, lalu meluapkan ketidaknyamanan itu dengan kebiasaan belanja impulsif.
Baca Juga: Sudah Dibuka untuk Umum, Ini Cara Berkunjung ke IKN!
Di Amerika Serikat, faktanya ada 96% orang yang prihatin dengan kondisi ekonomi saat ini dan lebih dari seperempatnya melakukan pengeluaran berlebihan untuk mengatasi stres.
Angka tersebut didapatkan dari survei Intuit Credit Karma terhadap lebih dari 1.000 orang Amerika pada November 2023.
Tidak hanya terjadi di Amerika
Meski survei dilakukan di Amerika, tetapi pada dasarnya semua negara dengan tingkat inflasi yang tinggi dan ketidakpastian politik akan membuat masyarakatnya sulit untuk merasionalisasi penghematan.