PejuangKantoran.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025 memang terlihat menjanjikan. Namun jika dilihat lebih dalam, kenaikan ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental pasar secara menyeluruh.
Reli indeks masih didorong oleh segelintir saham konglomerasi, sementara banyak saham berfundamental kuat, termasuk perbankan besar, belum ikut menikmati kenaikan signifikan.
Kondisi ini justru membuka peluang menarik bagi investor yang siap melangkah ke 2026 dengan strategi lebih selektif dan berorientasi jangka menengah.
Kenaikan Indeks, Tapi Mayoritas Saham Masih Tertinggal
Meski IHSG mencatat tren naik, struktur reli pasar masih tergolong sempit. Hanya beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks. Di sisi lain, banyak saham dengan kinerja bisnis solid masih diperdagangkan di level valuasi rendah.
Situasi ini mengindikasikan bahwa kenaikan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental pasar secara luas. Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal bahwa peluang justru berada pada saham-saham yang belum “dipoles” pasar.
Suku Bunga Turun, Peluang Re-rating Terbuka
Memasuki fase penurunan suku bunga, pasar saham Indonesia berpotensi memasuki periode re-rating valuasi. Saat biaya dana menurun, valuasi saham cenderung menjadi lebih menarik, terutama untuk emiten dengan pertumbuhan laba yang stabil.
Secara relatif, valuasi saham Indonesia masih tergolong murah dibandingkan pasar Asia lainnya. Ditambah lagi, potensi pertumbuhan laba emiten pada 2026 diproyeksikan tetap solid, disertai dividend yield yang menarik. Kombinasi ini menjadikan saham fundamental sebagai opsi rasional bagi investor yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan pendapatan dividen.
2026: Momentum Saham Fundamental dan Sektor Siklikal
Dengan proyeksi ekonomi yang tetap terjaga di 2026—ditopang oleh konsumsi domestik dan belanja pemerintah—saham-saham sektor siklikal berpeluang mengambil peran utama. Sektor perbankan, consumer, dan telekomunikasi diperkirakan menjadi motor penggerak, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Strategi yang disarankan bukan mengejar saham yang sudah naik tinggi, melainkan fokus pada saham berfundamental kuat dengan valuasi yang masih rasional. Pendekatan jangka menengah menjadi kunci untuk menangkap potensi pemulihan yang lebih merata.
Baca Juga: Pekerja Kontrak dengan Gaji Maksimal Rp10 Juta, Apakah Bebas Pajak di 2026?