PejuangKantoran.com – Dana darurat atau investasi, mana yang harus didahulukan? Pertanyaan ini semakin sering muncul seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi, mulai dari perlambatan pertumbuhan bisnis, efisiensi perusahaan, hingga meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor. Banyak orang ingin segera berinvestasi demi mengejar keuntungan, tetapi lupa bahwa kondisi darurat dapat terjadi kapan saja.
Baca Juga: Awas PHK Bisa Datang Kapan Saja! Ini 7 Checklist Keuangan yang Wajib Dimiliki Karyawan
Baca Juga: Bukan Investasi, Lakukan 3 Langkah Ini Biar Keuanganmu Tidak Goyah saat Terjadi Keadaan Darurat
Dalam perencanaan keuangan yang sehat, dana darurat tetap menjadi prioritas utama sebelum membangun portofolio investasi. Dana ini berfungsi sebagai "jaring pengaman" ketika terjadi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendadak, atau kebutuhan keluarga yang mendesak. Setelah dana darurat terbentuk, barulah investasi dapat dilakukan secara lebih optimal tanpa mengganggu stabilitas keuangan.
Dahulukan Dana Darurat
Bayangkan Anda sudah memiliki investasi saham atau reksa dana senilai puluhan juta rupiah. Namun, tiba-tiba perusahaan tempat Anda bekerja melakukan efisiensi dan Anda kehilangan sumber penghasilan. Jika tidak memiliki dana darurat, kemungkinan besar Anda harus menjual investasi tersebut meski nilainya sedang turun.
Kondisi seperti ini justru berpotensi menyebabkan kerugian karena investasi yang seharusnya disimpan untuk tujuan jangka panjang terpaksa dicairkan pada waktu yang kurang tepat.
Sebaliknya, dana darurat memberikan ruang bernapas. Anda tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil mencari pekerjaan baru, tanpa harus mengorbankan aset investasi yang telah dibangun.
Besaran Dana Darurat yang Ideal
Besaran dana darurat berbeda untuk setiap orang, tergantung kondisi keluarga dan tingkat pengeluaran.
Sebagai panduan umum:
- Lajang: 3–6 bulan pengeluaran rutin.
- Menikah tanpa anak: 6 bulan pengeluaran.
- Menikah dengan anak: 6–12 bulan pengeluaran.
- Pekerja lepas atau freelancer: 9–12 bulan pengeluaran karena pendapatan cenderung tidak tetap.
Sebagai contoh, jika pengeluaran bulanan Anda mencapai Rp8 juta, maka dana darurat minimal yang sebaiknya dimiliki berkisar antara Rp48 juta hingga Rp96 juta apabila sudah berkeluarga.
Penempatan Dana Darurat