Faktor Psikologis di Balik Tipe Kepribadian dalam Mengelola Keuangan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 28 November 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi: Ada bermacam tipe kepribadian dalam mengelola keuangan. (Pexels)
Ilustrasi: Ada bermacam tipe kepribadian dalam mengelola keuangan. (Pexels)

PejuangKantoran.com - Bagaimana cara kamu menangani keuangan ternyata dipengaruhi kepribadian dan psikologis kamu. Ada yang akan menganggarkan dengan cermat, merencanakan setiap detail keuangan terakhir, ada juga si murah hati yang menghabiskan lebih banyak uang untuk orang lain. Jadi, ada latar belakang tertentu yang mendasari tipe kepribadian dalam mengelola keuangan.

Dengan mengetahui faktor psikologis di balik tipe kepribadian keuanganmu sendiri, kamu menjadi lebih berhati-hati tentang pengeluaran dan membuat keputusan yang lebih baik untuk masa depan.

Baca Juga: Begini Cara Membeli Sukuk Tabungan ST009, Kesempatan Terakhir 28 November 2022!

1. Si penabung yang main aman
Inilah tipe kepribadian keuangan yang paling umum. “Penabung suka menimbun uang, lebih memilih risiko rendah dan selalu ingin mengambil pilihan yang paling aman,” ujar pakar keuangan Rebecca Roberton.

Mereka cenderung menabung di bank normal, dan tidak berniat menginvestasikan uangnya karena merasa terlalu berisiko. Padahal, menyisihkan sejumlah kecil dari tabungan untuk investasi justru dapat melipatgandakan uangnya.

2. Si penghasil uang yang kompulsif
Penghasil uang yang kompulsif mengasosiasikan uang dengan kebebasan finansial, keamanan, dan kebahagiaan, padahal kebiasaan ini dapat merugikan kesejahteraan secara keseluruhan. Mereka hangout di kafe-kafe untuk membuat orang terkesan dengan kekuatan finansial mereka. Bedanya dengan para pemboros, mereka memvalidasi diri mereka sendiri secara eksternal.

“Penghasil uang akan sering berfokus untuk menghasilkan uang dengan mengorbankan hal lain,” jelas performance coach Polly Bateman.

Baca Juga: POV: Harapan untuk Self Reward Sehabis Gajian

3. Si dermawan
Si dermawan selalu membayar minuman, mengambil alih tagihan makan, dan memberikan hadiah-hadiah untuk teman-temannya. Namun, ada motivasi tertentu di balik kebiasaan ini. "Meskipun memanjakan orang yang kamu cintai merupakan hal yang luar biasa, tanyakan pada diri kamu, 'Apakah saya melakukan ini untuk membuat diri saya merasa lebih baik?' “Kamu harus ingat bahwa kebutuhan finansialmu sama pentingnya,” lanjut Roberton yang juga host How To Accelerate Your Wealth.

4. Si pemboros demi status
Ia sibuk dengan apa yang dipikirkan orang lain, dan ingin terlihat kaya di mata orang lain. “Pemboros cenderung menyukai objek status seperti gadget, pakaian, sepatu, dan mobil mewah. Mereka akan membelikan semua orang minuman karena mereka peduli apa yang orang pikirkan tentang mereka. Padahal mereka jadi lebih mudah berutang karena sifat-sifat ini,” kata Roberton.

Ini semua adalah cerminan dari kebutuhan mendapatkan validasi dari luar dan rasa takut jika ada sesuatu yang tidak mereka sukai dari diri mereka sendiri.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Sukuk Tabungan Dibanding SBN Ritel Lainnya

5. Si pencari pengalaman
Pencari pengalaman memprioritaskan pengalaman seperti travelling, makan malam mewah, atau mungkin perawatan pijat dan spa ketimbang membeli barang-barang mahal. Masalahnya adalah, hal-hal ini bisa menjadi rutin, dan tagihan untuk pengalaman dapat segera bertambah banyak. Pencari pengalaman cenderung hidup di saat ini, tanpa banyak rencana untuk masa depan.

6. Si penghindar
Orang ini jarang memeriksa rekening bank karena mungkin membuatnya cemas, dan tidak memiliki pandangan yang jelas tentang sistem perbankan. Singkatnya, keuangan mereka kacau akibat suka menghindar dan selalu risau. Aplikasi penganggaran seperti  Finansialku  atau Money Manager dapat membantu membuat penganggaran yang lebih efektif.

7. Si pemeriksa rekening bank
Kebalikan dari si penghindar; mereka ini secara kompulsif memeriksa rekening bank, memikirkan setiap receh yang terpakai, dan ingin selalu memegang kendali keuangan mereka. “Orang ini terlalu banyak berpikir dengan uang yang mereka miliki. Tingkat stresnya tinggi dan selalu memikirkan apa yang salah di kepala mereka,” jelas Bateman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Marie Claire

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X