PejuangKantoran.com - Sejak dirilis 13 Maret 2025, para kritikus film tak henti-hentinya membicarakan Adolescence, mini seri empat episode yang diputar di Netflix.
Hingga 30 Maret 2025, statistik serial ini mencatat 30,4 juta penayangan. Bahkan banyak yang memprediksi bahwa mini seri ini akan menang banyak di ajang Emmy Awards tahun ini.
Adolescence bercerita tentang kisah remaja laki-laki berusia 13 tahun bernama Jamie Miller (Owen Cooper), yang dituduh membunuh teman perempuannya di sekolah, Katie.
Baca Juga: Di Balik Pembuatan Film Perang Kota, Apa yang Bikin Jerome Kurnia Sok Jual Mahal?
Jamie diduga terpapar konten misoginis (kebencian terhadap perempuan) dari internet, sekaligus menjadi korban perundungan di media sosial.
Dari episode pertama, penonton langsung diajak merasakan tekanan yang dirasakan keluarga Jamie akibat penangkapannya. Ketenangan keluarga mereka mendadak terbalik 180 derajat menjadi ketegangan yang penuh tanda tanya.
Apakah Jamie membunuh atau tidak? Bagaimana anak remaja yang di luarnya terlihat kalem itu bisa membunuh? Apa yang sebenarnya terjadi?
Tak dapat dipungkiri, keterkaitan emosi penonton terhadap serial ini bisa cepat tercapai dengan teknik pengambilan gambar sekali rekam tanpa berhenti (one continuous shot) yang sangat brilian dari sutradara Philip Barantini.
"Kamu tinggal menekan tombol rekam, lalu menekan tombol berhenti satu jam kemudian. Tidak ada pemotongan. Tidak ada penyuntingan. Begitu kamu menghidupkan mesin produksi, kamu tidak dapat berhenti atau mundur," kata Philip, dikutip dari Tudum by Netflix.
Secara teknis, hal ini tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Pengambilan gambar direncanakan melalui latihan blocking berpuluh-puluh kali. Setelah itu dilanjutkan dengan uji coba teknis secara menyeluruh di mana sinematografer merencanakan pergerakan kamera.
Baca Juga: Digarap Keroyokan 7 Negara, Perang Kota Mengangkat Kisah Cinta dengan Setting Jakarta Tahun 1946
Kabarnya, setiap episode Adolescence membutuhkan waktu rekam sekitar tiga minggu.
Dengan teknik ini, dramatisasi cerita disajikan melalui sudut pandang tokoh yang berbeda di setiap episodenya.
Episode pertama menghadirkan sudut pandang Jamie dan ayahnya saat pertama kali digrebek polisi dan digelandang ke kantor polisi. Penonton diperlihatkan seperti apa dinamika hubungan keduanya.
Episode kedua, dari sudut pandang detektif saat menginvestigasi teman-teman sekolah Jamie. Terkuak fakta bahwa perundungan tidak hanya terjadi saat siswa berada di sekolah, tetapi juga melalui komentar di media sosial.
Artikel Terkait
Fenomena Tarian Pemanggil THR: Tren Viral yang Mengundang Kontroversi
Panduan Memilih Speaker Bluetooth Harga Rp1 Jutaan Tahun 2025 Buat Kaum Mendang-Mending
Baru Berdiri Tahun 2019, Produk Minyak Telon Habbie Sasar Ekspansi Bisnis Ke Luar Negeri
Guru Besar UGM Diduga Lakukan Pelecehan Seksual pada Mahasiswa Bimbingan Skripsi
Apa yang Terjadi Jika Indonesia Kena Tarif Impor 32 Persen dari Pemerintahan Donald Trump?
Ngontrak Rumah bareng Teman? Jangan Mau Jadi 'Cinderella Roommate' dan Segera Bagi Tugas!
Umbul Pelem, Wisata Air yang Dikelola Warga Desa Wunut bersama BUMDes melalui Program Desa BRILiaN