Beraaat... Bermain di Pengepungan di Bukit Duri, Omara Esteghlal Ambil Referensi dari Literatur Filsafat

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 18 April 2025 | 17:10 WIB
Omar Esteghlal banyak mengambil pendekatan dari literatur filsafat untuk menggali karakter Jefri di Pengepungan di Bukit Duri. (Instagram @omara.esteghlal)
Omar Esteghlal banyak mengambil pendekatan dari literatur filsafat untuk menggali karakter Jefri di Pengepungan di Bukit Duri. (Instagram @omara.esteghlal)

PejuangKantoran.com - Berperan sebagai Jefri, remaja bermasalah dengan emosi yang meledak-ledak di film Pengepungan di Bukit Duri, bukan hal yang mudah buat Omara Esteghlal.

Untuk bisa mengekspresikan karakter dengan intensitas seperti itu, Omara banyak berdiskusi dengan sutradara Joko Anwar dan para pemain lainnya.

Tidak hanya diskusi untuk menggali karakter Jefri, tetapi juga isu-isu sosial yang membentuk karakter Jefri menjadi keras seperti yang digambarkan dalam skrip.

Baca Juga: 'Pengepungan di Bukit Duri' Ekspresi Keresahan Joko Anwar akan Gagalnya Sistem Pendidikan

“Saya menggodok karakter melalui proses cukup panjang dengan banyak referensi bersama para pemain. Pendekatan karakternya lebih bersifat empiris.

“Kami diskusi tentang psikologi manusia dan apa yang terjadi dalam keadaan politik negara dan juga keadaan global,” ujar Omara, saat konferensi pers Pengepungan di Bukit Duri di Epicentrum XXl, Kuningan, Jakarta, Kamis (10/04/2025).

Sebagai lulusan St. Olaf’s College, Minnesota, AS, dengan double degree, Filsafat dan Psikologi, diskusi-diskusi tentang perilaku manusia tentu saja selalu menarik perhatiannya.

Dari diskusi ini, karakter Jefri ia tarik dari konsep yang dicetuskan oleh filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche.

“Pendekatan pribadi saya banyak mengambil dari literatur filsafat. Saya mengambil gagasan yang sering disalahpahami. Dari Friedrich Nietzsche, bahwa seseorang ingin menjadi lebih di masyarakat, seseorang yang ingin menjadi manusia super.

“Karakter saya selalu ingin menjadi seperti itu karena ia selalu menjadi korban penindasan di lingkungannya. Sebagai pelampiasannya, tanpa sengaja, ia malah menindas orang lain.

Baca Juga: Anya Geraldine Merasa Punya Banyak Kesamaan dengan Naya di Mendadak Dangdut

“Bukannya bersikap netral, ia malah memaksakan kehendaknya pada orang lain!” terang aktor yang kini sedang berpacaran dengan Prilly Latuconsina itu.

Dari situ, ia kemudian mengulik karakternya lebih dalam lagi bersama Joko Anwar.

“Ide ini sebenarnya banyak dibicarakan oleh Bang Joko, di mana ini menjadi dasar karakter Jefri. Bagaimana ia sampai pada titik tidak ada harapan lagi dan harus melakukan (kekerasan dan mengamuk) meskipun ia tidak ingin melakukannya!” ujarnya.

Walau merasa kesulitan dan kewalahan berakting sebagai Jefri, ia merasa karakter ini merupakan cerminan dari apa yang terjadi di masyarakat, yang juga menjadi keresahan pribadinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X