PejuangKantoran.com - Berperan sebagai Jefri, remaja bermasalah dengan emosi yang meledak-ledak di film Pengepungan di Bukit Duri, bukan hal yang mudah buat Omara Esteghlal.
Untuk bisa mengekspresikan karakter dengan intensitas seperti itu, Omara banyak berdiskusi dengan sutradara Joko Anwar dan para pemain lainnya.
Tidak hanya diskusi untuk menggali karakter Jefri, tetapi juga isu-isu sosial yang membentuk karakter Jefri menjadi keras seperti yang digambarkan dalam skrip.
Baca Juga: 'Pengepungan di Bukit Duri' Ekspresi Keresahan Joko Anwar akan Gagalnya Sistem Pendidikan
“Saya menggodok karakter melalui proses cukup panjang dengan banyak referensi bersama para pemain. Pendekatan karakternya lebih bersifat empiris.
“Kami diskusi tentang psikologi manusia dan apa yang terjadi dalam keadaan politik negara dan juga keadaan global,” ujar Omara, saat konferensi pers Pengepungan di Bukit Duri di Epicentrum XXl, Kuningan, Jakarta, Kamis (10/04/2025).
Sebagai lulusan St. Olaf’s College, Minnesota, AS, dengan double degree, Filsafat dan Psikologi, diskusi-diskusi tentang perilaku manusia tentu saja selalu menarik perhatiannya.
Dari diskusi ini, karakter Jefri ia tarik dari konsep yang dicetuskan oleh filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche.
“Pendekatan pribadi saya banyak mengambil dari literatur filsafat. Saya mengambil gagasan yang sering disalahpahami. Dari Friedrich Nietzsche, bahwa seseorang ingin menjadi lebih di masyarakat, seseorang yang ingin menjadi manusia super.
“Karakter saya selalu ingin menjadi seperti itu karena ia selalu menjadi korban penindasan di lingkungannya. Sebagai pelampiasannya, tanpa sengaja, ia malah menindas orang lain.
Baca Juga: Anya Geraldine Merasa Punya Banyak Kesamaan dengan Naya di Mendadak Dangdut
“Bukannya bersikap netral, ia malah memaksakan kehendaknya pada orang lain!” terang aktor yang kini sedang berpacaran dengan Prilly Latuconsina itu.
Dari situ, ia kemudian mengulik karakternya lebih dalam lagi bersama Joko Anwar.
“Ide ini sebenarnya banyak dibicarakan oleh Bang Joko, di mana ini menjadi dasar karakter Jefri. Bagaimana ia sampai pada titik tidak ada harapan lagi dan harus melakukan (kekerasan dan mengamuk) meskipun ia tidak ingin melakukannya!” ujarnya.
Walau merasa kesulitan dan kewalahan berakting sebagai Jefri, ia merasa karakter ini merupakan cerminan dari apa yang terjadi di masyarakat, yang juga menjadi keresahan pribadinya.
Artikel Terkait
Makan Lebih Banyak Buah Sitrus Bisa Membantu Meningkatkan Mood, Kata Ahli Gizi
Blue Origin Sukses Kirim Kru Perempuan ke Luar Angkasa, Termasuk Katy Perry dan Pacar Jeff Bezos!
Ini Buah-buahan yang Penting untuk Jaga Suasana Hatimu, Biar Gak Gampang Bad Mood!
Garam dan Merica serta Gelas Kosong Ternyata Bisa Jadi Penilaian Saat Wawancara Kerja, Seperti Ini Caranya!
Karena Pembelian Juga Didasarkan Emosi dan Persepsi, Ini 9 Konsep Neuromarketing yang Harus Diketahui
5 Strategi Pemimpin untuk Mencegah Burnout pada Karyawan, Jadilah Role Model yang Baik
Memanfaatkan Ekosstem Digital, Medsos dan Marketplace, Pengusaha Kue Ini Semakin Berkembang