Untuk membangun tensi misteri, Ginanti Rona dibantu oleh editor Wawan Suwanto yang melakukan treatment khusus dalam menjahit cerita.
Penyuntingan film ini fungsinya mengatur agar alur cerita dapat dinikmati penonton. Pada proses ini, Wawan mengatur posisi jumpscare-nya. Kapan dan bagaimana harus masuk, dan harus membangun kesan mengejutkan.
"Saya pakai tempo ke-6 untuk jumpscare-nya di film ini. Rata-rata film Indonesia akan mengejutkan penonton di tempo ke-3. Pas kejutan ke-3, hantunya muncul.
"Saya coba tipu. Pas kejutan ke-3 tidak ada apa-apanya. Baru pas ke-6, deeer! Penonton terhentak!” terang editor peraih 4 Piala Citra ini.
Artikel Terkait
Kebanyakan Duduk? Hati-hati Dead Butt Syndrome!
Siapa yang Berisiko Dead Butt Syndrome dan Cara Mengatasinya
Heel Striking atau Gaya Berlari Dengan Tumit Tidak Salah. Berikut Kata Pakarnya!
Cara Ampuh Memotong Pembicaraan Rekan Kerja yang Terlalu Dominan Saat Meeting
Questioning Assumption atau Mempertanyakan Asumsi Penting Bagi Dunia Bisnis. Mengapa?
Ribuan Umat Buddha di Vihara Centiya Mi Lek Hud Terima Bantuan Sembako dari Program BRI Peduli
Buat yang Suka Kolab Bareng Influencer, Ada Lowongan Kerja Community & Affiliate Manager di Upartners