PejuangKantoran.com - Sebelum diangkat menjadi film, cerita Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut sudah banyak digemari. Cerita yang ditulis oleh Qwertyping atau Teguh Faluvie ini pertama kali keluar sebagai thread di Twitter (sekarang X).
Setelah viral, kisah ini juga sukses dalam format podcast yang telah ditonton lebih dari 20 juta kali di YouTube, dengan 4 musim dan 32 episode.
Menyusul sukses besar di dunia maya, Kampung Jabang Mayit kini diangkat ke layar lebar, di mana ceritanya merupakan prekuel dari cerita podcast.
Baca Juga: Mantan Istri Chris Martin, Gwyneth Paltrow, Ditunjuk Astronomer Jadi “Juru Bicara” Perusahaan
Film ini merupakan karya perdana Spasi Moving Image, hasil kolab bareng Kucing Hitam Pictures, Ben Film dan Clockwork Film. Secara IP (intellectual property), film ini punya kekuatan.
"Cerita yang dibangun mas Teguh dan mas Prasodjo Muhammad sudah dibuat sangat panjang hingga tiga season. Jadi, penikmat cerita ini sudah cukup solid.
"Selain itu, cerita ini dibangun oleh teman-teman saya yang memang fokus di cerita horor. Juga ada keresahan dari teman-teman sejak lama untuk berkolaborasi membuat film ini.
"Ceritanya cukup menarik bagi saya, dan seperti yang dilihat, penyuguhan film ini memberikan nuansa-nuansa yang berbeda,” ujar Ajish Dibyo, produser dari Spasi Moving Image, saat gala premiere Kampung Jabang Mayit di CGV Grand Indonesia, Senin (21/07/2025).
Film berdurasi 84 menit ini menceritakan tentang seorang model bernama Weda (Ersya Aurelia) yang karirnya hancur karena skandal kehamilan di luar nikah.
Bersama kekasihnya, Bagas (Bukie B. Mansyur), ia pergi ke kampung halaman Bagas yang ternyata sebuah desa terpencil dan misterius, Rangkaspuna.
Baca Juga: Perang Harga! American Airlines Kritik Penggunaan AI untuk Penentuan Harga Tiket oleh Kompetitor
Weda kemudian bertemu dengan dukun aborsi terkenal bernama Ni Itoh (Atiqah Hasiholan). Ternyata, Ni Itoh dan desa Rangkaspuna menyimpan legenda gelap dan praktik mistis.
Niat awal untuk menyelamatkan masa depan Weda justru berubah menjadi mimpi buruk. Weda terperangkap dalam pusaran kutukan kuno yang haus tumbal.
“Yang ingin saya sampaikan dari film ini adalah wanita harus punya kuasa terhadap badannya sendiri. Aborsi atau tidak aborsi, saya tidak mau judgemental. Tapi, bagaimana menggambarkan bahwa perempuan memiliki dunia yang kompleks.
"Pengaruh pressure yang kuat dari masyarakat yang membuat mereka gamang dalam mengambil keputusan.
Artikel Terkait
Legenda Gulat WWE Hulk Hogan Meninggal Dunia di Usia 71 Tahun
Bosan dengan Rutinitas yang Itu-itu Saja? Gini Lho, Cara Bikin Aktivitas Kamu Lebih Memuaskan!
4 Gaya Manajerial Terbaik untuk Mengelola Tim Penjualan, Gabungkan agar Hasilnya Maksimal
Bagaimana Caranya Ganti Karir Jika Kamu Seorang Akuntan Pajak? Ikuti Langkah-Langkah Ini!
Jika Rapat Lama dan Bertele-tele, Lakukan Ini agar Meeting Lebih Efektif dan Cepat Selesai
3 Gaya Kepemimpinan Modern Yang Mulai Banyak Dipakai. Berikut Ini Cara Melakukannya!
Tak Selalu Menjadi Kunci Produktivitas, Multitasking Justru Bisa Kontraproduktif di Momen Berikut Ini!