'A Normal Woman', Film Teror Psikologis dari Netflix yang Mendorong Perempuan untuk Jujur pada Diri Sendiri

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Minggu, 27 Juli 2025 | 20:40 WIB
Netflix meluncurkan film psychological terror, A Normal Woman, yang dibintangi Marissa Anita dan Dion Wiyoko. (Netflix)
Netflix meluncurkan film psychological terror, A Normal Woman, yang dibintangi Marissa Anita dan Dion Wiyoko. (Netflix)

PejuangKantoran.com - Netflix bekerja sama dengan rumah produksi Soda Machine Film merilis film original terbaru berjudul A Normal Woman. Film drama psikologis ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi dan skenarionya ditulis oleh Andri Cung.

Premise cerita ini tidak terlalu njelimet, tentang bagaimana seorang sosialita wanita bernama Milla (Marissa Anita) yang mengalami penyakit aneh pada kulitnya. 

Ketika Milla mencoba mencari tahu apa penyebab penyakit tersebut, film lalu berubah menjadi teror yang mencekam sekaligus kontemplatif.

Baca Juga: “Tak Sempurna”: Duet Canti dan Adipati Dolken yang Jujur dan Emosional

“Film biasanya dilihat sebagai self-improvement. Bisa membuat diri kita lebih baik. Tapi, di film ini, saya melihatnya sebagai self-retrieval.

"Kita mengambil kembali bagian-bagian dari kita yang sudah hilang atau terhapus seperti apa yang terjadi pada Milla,” ujar Lucky Kuswandi, saat pemutaran perdana A Normal Woman di Plaza Senayan XXI, Rabu (23/07/2025).

Lucky lalu menjelaskan peristiwa ekstrim yang dialami Milla mungkin tidak terjadi di kehidupan nyata. Namun, ia yakin apa yang dialami Milla akan banyak yang relate.

Di dalam kehidupan, banyak peran yang harus dijalani seseorang, baik sebagai ibu, istri, anak, atau peran apapun di masyarakat. Kadang dengan begitu banyak peran itu, perempuan menjadi lupa jati dirinya.

“Kita pasti pernah berada di stage of our life yang merasa diri kita terhapus karena harus menjalankan berbagai peran. Saat menjalankan berbagai peran itu, kita tidak lagi menyadari bahwa itu sebenarnya sudah tidak normal.

"Dan, ketika kita tidak menyadarinya, biasanya yang paling intelijen adalah tubuh kita. Tubuh akan memberi alarm. Kayaknya ada yang nggak normal nih dengan cara kita menjalani our life!” jelas Lucky lebih lanjut.

Baca Juga: Saat Dapat Tawaran Kerja dan Gaji Tidak Sesuai, Coba Negosiasikan lewat Email. Ini yang Perlu Kamu Tahu!

Pada kasus Milla, alarm itu muncul dalam bentuk penyakit pada kulit. Sedangkan di luar film ini, mungkin bentuknya cenderung mempengaruhi kesehatan mental seperti anxiety.

That’s the way tubuh kita berkomunikasi untuk kasih tahu, coba deh elo observe sekali lagi how you lead your life. Apakah hidup sudah seotentik itu saat dijalani, atau kita lakukan demi peran A, B atau (demi) mendapatkan cinta suami atau apapun itu!” tambahnya.

Dipercaya memerankan Milla, Marissa Anita mengaku mendapat banyak bahan untuk berkontemplasi dalam kehidupan pribadinya. Karakternya mengajarkan betapa pentingnya untuk bersikap jujur pada diri sendiri.

“Milla mengajarkan aku pentingnya otentisitas. Otentisitas itu apa, sih? Bahasa sederhananya adalah kita tahu kurang lebih siapa diri kita.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X