Pejuangkantoran.com – Fandom adalah kekuatan publik yang tidak boleh diremehkan. Fandom adalah komunitas orang-orang yang memiliki minat dan kecintaan mendalam terhadap suatu karya, seperti film, musik, selebritas, buku, game, atau franchise tertentu.
Kata “fandom” berasal dari gabungan kata fan (penggemar) dan akhiran -dom (yang menunjukkan wilayah atau domain), jadi secara harfiah berarti “dunia penggemar”.
Menurut seorang pakar media dan budaya popular Henry Jenkis, fandom adalah bentuk keterlibatan budaya yang aktif, di mana penggemar tidak hanya mengonsumsi media, tetapi juga menciptakan, mendiskusikan, dan membentuk makna bersama dalam komunitas."
Jadi fandom itu tak hanya sekadar penggemar biasa yang sekadar menonton atau menyukai suatu konten tanpa keterlibatan lebih. Fandom itu terlibat secara emosional, sosial, dan bahkan kreatif dalam mendukung dan membangun komunitas seputar konten tersebut.
Ciri-ciri fandom:
- Keterlibatan Aktif: Membuat fan-art, fan-fiction, edit video, meme, analisis teori, dan sebagainya.
- Komunitas Sosial: Berkumpul secara online (forum, Discord, Reddit, TikTok) atau offline (konser, event, fan-meet).
- Bahasa & Simbol Khusus: Mengembangkan jargon atau istilah khas (misalnya: “Army” untuk BTS, “Trekkies” untuk Star Trek).
- Dukungan Emosional: Fandom sering menjadi sumber identitas, koneksi sosial, dan solidaritas emosional.
- Mobilisasi Kolektif: Komunitas fandom bisa menggalang kekuatan massa untuk trendingkan topik, boikot, atau crowdfunding.
Contoh fandom yang sudah dikenal, misal ARMY untuk fandom BTS, Nakama atau Mugiawara fans untuk fandom One Piece, Potterheads untuk fandom Harry Potter, dan sebagainya.
Kekuatan Fandom
Kekuatan fandom ini tak hanya akan menguntungkan konten/objek yang disukainya, namun juga bisa berdampak ke hal-hal lain di luar budaya pop itu sendiri.
Kekuatan fandom yang memengaruhi budaya pop itu sendiri misal kasus desain dan karakter dari Sonic The Hedgehog (tahun 2019) yang diubah karena ada protes dari fans. BTS merilis varian album dan photobook berdasarkan masukan dari komunitas ARMY.
Sementara kekuatan fandom yang bisa memengaruhi hal-hal di luar konten atau budaya pop itu sendiri misal, Black Lives Matter (BLM).
BLM adalah sebuah gerakan sosial dan politik yang muncul untuk melawan rasisme sistemik dan kekerasan terhadap orang kulit hitam, khususnya di Amerika Serikat, tetapi kemudian menyebar secara global.
Seperti yang disebutkan di Aljazeera.com (1/72020), berbekal klip K-pop, ARMY telah menyebarkan permintaan pengawasan polisi di Twitter, kartu ulang tahun untuk Presiden Trump, dan mengambil alih tagar rasis seperti #WhiteLivesMatter dan #itsokaytoberacist.
Tagar #WhiteLivesMatter muncul muncul sebagai reaksi dan penolakan terhadap gerakan #BlackLivesMatter (BLM) di Amerika Serikat.
Artikel Terkait
Ketika Lightstick Mempertemukan Fandom Kpop di Festivibes Now Boarding Jakarta Final Call
Kolaborasi Kopi Kenangan dengan Tahilalats dan One Piece, Rasa Lebih Fruity dan Segar
Jepang Kini Punya Vending Machine yang Isinya Kue Karakter Anime One Piece
Jadi Pembawa Obor Olimpiade, Jin BTS Berterima Kasih Pada ARMY : Saya Sangat Bersyukur
Gara-gara Sal Priadi Bocorkan Film RM BTS di Jogja-NETPAC Film Festival, Tiket JAFF Diburu Army!
Pemerintah Ancam Sanksi Tegas bagi Warga yang Nekat Kibarkan Bendera One Piece di Momen Kemerdekaan