PejuangKantoran.com - Diangkat dari buku berjudul Lyora: Keajaiban yang Dinanti karya Fenty Effendy, film Lyora: Penantian Buah Hati menampilkan perspektif pasangan suami istri yang menghadapi infertilitas, isu yang sering didengar namun jarang diangkat ke dalam film.
Stigma yang beredar di masyarakat selama ini adalah bahwa penyebab infertilitas selalu datang dari pihak perempuan. Tekanan akibat stigma ini seringkali memicu depresi bagi para wanita.
“Niat kita membuat film ini lebih ke PSA, Public Service Announcement (iklan layanan masyarakat). Bahwa masalah fertilitas ini adalah masalah yang sangat serius.
Baca Juga: Diadaptasi dari Film Korea, 'Panggil Aku Ayah' Hadirkan Kehangatan Cinta Keluarga Tidak Sedarah
Terkait sosial atau agama, wanita masih sering menjadi warga negara kelas dua. Karena masalah fertilitas, terjadi banyak perceraian dan poligami di Indonesia.
"Yang disalahkan selalu perempuan. Padahal kan, kalau bikin anak itu perlu laki dan perempuan ya? Kenapa laki tidak pernah disalahkan?
"Lewat film ini, semoga kita sadar kalau perjuangan untuk memiliki keturunan juga perjuangan suami istri!” ujar produser Robert Ronny, saat konferensi pers di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Kamis (31/07/2025).
Perspektif positif seperti inilah yang kemudian coba dihadirkan melalui skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Priska Amalia.
Walaupun ceritanya diangkat dari buku tentang perjalanan Meutya Hafid memiliki anak, jalan cerita film Lyora: Penantian Buah Hati ternyata menggabungkan cerita buku dengan kesaksian banyak pasangan yang juga berjuang untuk kehamilan.
“Pertama, yang harus digarisbawahi adalah ini berdasarkan kisah nyata dari banyak pasangan. Kami mencoba menggabungkan banyak kisah nyata ke dalam satu film ini dengan timeline penceritaan yang memang berdasarkan sebuah timeline waktu real yang pernah terjadi.
Baca Juga: 15 Film Indonesia yang Rilis Bulan Agustus: Ada Nicholas Saputra Main di Film Musikal!
"Penyusunan konflik seperti bayi tabung atau ada covid, kita sebut halangan dan kita susun halangan itu agar semakin besar sehingga ada konflik.
"Itu sifatnya sebagai kendaraan bagi pesan-pesan yang ingin kami sampaikan. Bahwa setiap perjuangan itu pasti banyak halangan, dan halangannya makin lama makin besar,” terang Titien.
Saat melakukan riset tentang para pejuang garis biru ini, Titien mengobrol langsung dengan para pasangan yang memang mengalami masalah infertilitas.
“Kita fokus juga kepada yang masih berjuang dan masih terus berharap. Itu yang kami coba pahami selama penulisan untuk berbicara tentang rasanya berjuang.
Artikel Terkait
Punya NPWP Belum Tentu Harus Bayar Pajak, Ini Penjelasan DJP
Beli Emas Kini Bebas Pajak, Pemerintah Resmi Hapus PPh untuk Masyarakat Umum
Kekuatan Fandom Tak Hanya Berpengaruh Pada Budaya Populer Namun Juga Sosial-Politik. Ini Contohnya!
Suka Menangis Diam-diam di Kamar Mandi? Kamu Tak Sendirian. Ini Alasan Banyak Orang Melakukannya!
21 Provinsi Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Tahun 2025, Catat Jadwal dan Caranya!
Danantara Fasilitasi Kerja Sama Geothermal Pertamina-PLN, Percepat Transisi Menuju Energi Bersih
Asiiik... Ada Tarif Transportasi Rp80 dan Diskon Belanja hingga 80 Persen di HUT Kemerdekaan RI!