Mengapa Penentuan Hilal (Bulan Baru) Menggunakan Hisab dan Rukyat?

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Senin, 16 Februari 2026 | 13:35 WIB
Ilustrasi penentuan hilal dengan metode rukyat. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi penentuan hilal dengan metode rukyat. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Rukyat adalah metode observasi langsung hilal pada saat matahari terbenam menjelang awal bulan hijriah.

Prinsip pelaksanaan

  • Dilakukan pada tanggal 29 bulan berjalan.
  • Jika hilal terlihat, besok ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru.
  • Jika tidak terlihat, bulan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Di Indonesia, rukyat dilakukan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan ormas Islam, ahli falak, dan pengadilan agama di berbagai titik pantau.

Kelebihan

  • Berbasis pengamatan faktual (empiris).
  • Dianggap sesuai dengan praktik historis pada masa Nabi Muhammad SAW.

Keterbatasan

  • Sangat tergantung kondisi cuaca.
  • Bisa terjadi perbedaan hasil antarwilayah.

 Baca Juga: Bagi Penderita GERD, Perhatikan 5 Poin Penting Berikut Ini Saat Berpuasa Ramadhan Supaya Aman

Dua metode ini dipakai di Indonesia dan negara-negara lain. Perbedaan metode inilah yang kadang menyebabkan perbedaan awal Ramadan atau Idulfitri di beberapa negara atau antarorganisasi, sebagaimana di Indonesia.

Pemerintah Indonesia sendiri menggunakan pendekatan kompromi antara hisan dan rukyat. Melelui Kementerian Agama, Indonesia menentukan bulan baru ini dengan menggunakan:

  • Hisab sebagai prediksi awal,
  • Rukyat sebagai verifikasi,
  • Kriteria visibilitas (MABIMS).

***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X